Solar Meroket, Sanksi Dicopot: Minyak Rusia Diborong Amerika Serikat

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Lonjakan harga bahan bakar minyak jenis solar di Amerika Serikat mencapai titik didih yang memicu guncangan geopolitik dan ekonomi domestik.

Konflik militer antara Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran sejak Februari 2026 mengganggu jalur pelayaran vital di Selat Hormuz, yang memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga menyentuh angka 109 dolar AS (setara Rp1.948.375) per barel.

Di pasar domestik Amerika Serikat, harga solar pun melambung tinggi hingga mencatatkan rekor sejarah senilai 6,50 dolar AS (setara Rp116.187) per galon pada 22 September.

Krisis solar global ini semakin parah akibat gelombang serangan drone Ukraina yang menghantam kilang-kilang minyak di wilayah Rusia, hingga menghentikan seuntukan besar kapasitas produksi bahan bakar negara tersebut.

Manuver Ukraina Bikin Trump Kalang Kabut

Menghadapi situasi yang tak terkendali jelang pemilu sela, Presiden Donald Trump mengambil langkah menohok.

Dalam kunjungannya ke Irlandia, Trump secara terbuka mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy demi menghentikan serangan terhadap infrastruktur diesel Rusia, menurut laporan Al Jazeera.

Trump menegaskan bahwa kehancuran kilang minyak Rusia menjadi pemicu utama kelangkaan solar dunia yang membebani masyarakat sekitar global.

Sanksi Diangkat, Minyak Rusia Disikat

Demi menahan gelombang kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri, Trump mengambil keputusan drastis yang mengejutkan panggung politik internasional.

Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump mengumumkan telah menyelesaikan pembicaraan bersama Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dalam kesepakatan tersebut, Moskow menyetujui pengiriman ratusan ribu ton solar ke pasar Amerika Serikat dan internasional.

Menindaklanjuti pengumuman tersebut, Departemen Keuangan Amerika Serikat langsung menerbitkan lisensi umum yang secara resmi mencopot sanksi terhadap bahan bakar Rusia.

Lisensi ini mengizinkan penjualan, pengiriman, hingga impor solar asal Rusia masuk ke Amerika Serikat yang berlaku hingga April 2027.

Langkah ini menandai pembalikan arah kebijakan yang dramatis, mengingat Washington semasih belumnya gencar menjatuhkan sanksi ekonomi pada sektor energi Rusia.

Semasih belum mencopot sanksi impor tersebut, pihak pemerintah AS bahkan sempat melonggarkan aturan penggunaan dyed diesel, yakni solar khusus alat berat dan pertanian, agar dapat dipakai oleh kendaraan umum di jalan raya.

Zelensky Berang

Keputusan memboyong solar dari Rusia memicu reaksi keras dan kecaman meluas. Presiden Zelenskyy menuding Washington memanfaatkan negosiasi perdamaian sebagai topeng demi menjalankan transaksi energi bersama Moskow.

Di dalam negeri, para politisi Partai Demokrat bagaikan Senator Chuck Schumer dan Elizabeth Warren mengecam keras langkah tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap sekutu serta ketidak berhasilan diplomasi.

Bus Sekolah di AS Ikut Kena Dampak

Dampak krisis solar ini tidak cuma mengguncang peta geopolitik, namun juga merembet langsung ke kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar Amerika Serikat.

The Drive menginformasikan bahwa salah satu sektor domestik yang teramat terpukul merupakan operasional bus sekolah. Pembengkakan tagihan bahan bakar memaksa distrik-distrik sekolah di berbagai wilayah memutar otak akibat alokasi anggaran yang jebol.

Sebagai gambaran, Distrik Sekolah Mishicot di Wisconsin menginformasikan pengeluaran ekstra hingga 1.000 dolar AS (setara Rp17.875.000) per minggu cuma demi menutupi biaya bahan bakar.

Berdasarkan riset terhadap 188 distrik sekolah di AS, sesejumlah 63 persen distrik terpaksa menyedot dana dari program lain demi membayar solar, sementara seuntukan lainnya terpaksa menguras dana cadangan.

Akibat keterbatasan anggaran ini, pihak sekolah terpaksa mengambil kebijakan pahit bersama memangkas rute perjalanan, mengurangi jumlah armada bus, hingga mewajibkan siswa berjalan kaki makin jauh menuju titik pemberhentian.

Tidak cuma itu, berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang menjadi untukan penting dari kehidupan sekolah, bagaikan tur olahraga, kompetisi musik drumband, hingga kunjungan lapangan (field trip), kini berada di ambang pembatalan lantaran sekolah tak lagi memiliki dana demi mengisi tangki solar armada mereka.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *