Wabah Pes Rusia Bikin Was-was, Pakar Kesehatan Ingatkan Munculnya Bakteri yang Kebal Antibiotik

admin
By
admin
2 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Kematian seorang pekerja laboratorium, Daria Shipilova di Rusia memicu kekhawatiran terhadap kebarangkalian wabah pes pneumonik, penyakit berbahaya yang menyerang sistem pernapasan.

Sekitar 200 orang yang diduga sempat menjalankan kontak bersama pihak korban kini berada dalam pengawasan medis, sementara para ahli menilai risiko penularannya tidak sebesar Covid-19.

Kasus ini terjadi di Institut Antipes Irkutsk, Siberia, yang menangani penelitian terkait patogen penyebab penyakit pes.

Hingga pada saat ini, penyebab tentu kematian pekerja tersebut masih belum dikonfirmasi secara resmi.

Profesor patogenesis mikroba dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, Brendan Wren, menerangkan bahwa bakteri Yersinia pestis penyebab pes pneumonik dapat menular melalui jalur pernapasan. Namun, tingkat penularannya dinilai tidak setinggi virus penyebab Covid-19.

“Yersinia pestis cukup menular, namun tidak sesejumlah SARS-CoV-2,” kata Wren, bagaikan dikutip dari El Confidencial.

Pes pneumonik merupakan bentuk penyakit pes yang menyerang paru-paru dan didikarenakankan oleh bakteri Yersinia pestis.

Berbeda bersama pes bubonik yang umumnya berkaitan bersama gigitan kutu terinfeksi, pes pneumonik dapat menular antarmanusia melalui partikel pernapasan yang mengandung bakteri.

Penyakit ini membutuhkan penanganan medis dalam waktu dekat lantaran dapat berkembang bersama cepat.

Meski berbahaya, infeksi pes dapat diobati memakai antibiotik apabila terdeteksi dan ditangani sedini barangkali.

Brendan Wren menyebut kasus pes masih ditemukan di berbagai wilayah dunia.

Ia memperkirakan sekitar 2.000 kasus terjadi setiap tahun, meskipun angka tersebut merupakan perkiraan yang disampaikan dalam laporan tersebut.

Wren juga mengingatkan adanya kebarangkalian munculnya strain bakteri yang kebal terhadap sejumlah antibiotik.

Jika pasien terinfeksi strain multiresistan, pilihan pengobatan dapat menjadi makin terbatas.

Namun, hingga laporan itu diterbitkan, masih belum ada informasi yang mengonfirmasi bahwa pekerja laboratorium di Rusia terinfeksi strain yang kebal antibiotik.

Menurut Wren, vaksin juga berpotensi dibutuhkan demi melindungi personel militer dari kebarangkalian penggunaan bakteri tersebut sebagai senjata biologis.

Sejauh informasi yang tersedia, masih belum ditemukan indikasi penularan luas bagaikan yang terjadi pada pandemi Covid-19.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *