MediaMerdeka.com – Perang di Timur Tengah kembali menyerahkan pukulan telak untuk militer Amerika Serikat. Dalam kampanye militer bertajuk Operation Epic Fury yang dilancarkan Washington terhadap Iran sejak 28 Februari 2026, Paman Sam wajib menelan kenyataan pahit.
Lebih dari 81 pesawat militer milik Amerika Serikat, mengawali dari jet tempur canggih hingga drone, dilaporkan hancur atau rusak parah dalam konflik yang memasuki bulan kedelapan ini.
Laporan terbaru dari Kantor Anggaran Kongres (Congressional Budget Office/CBO) membeberkan bahwa estimasi kerugian armada udara AS per 1 Agustus mencapai antara 1,9 miliar hingga 3,3 miliar dolar AS.
Jika dikonversikan bersama kurs Rp17.875 per dolar AS, nilai kerugian fantastis tersebut setara bersama Rp33,96 triliun hingga Rp58,99 triliun.
Laporan CBO merinci alutsista yang terdampak mencakup 12 unit jet tempur F-15E Strike Eagle, 1 unit jet siluman F-35A Lightning II, serta 7 unit pesawat tanker KC-135 Stratotanker.
Tak cuma itu, kehilangan tersejumlah didominasi oleh teknologi udara nirawak, di mana sesejumlah 45 unit drone MQ-9 Reaper dilaporkan tumbang.
Fenomena tumbangnya puluhan pesawat canggih milik militer papan atas ini memicu sorotan dari para pakar militer. Perubahan peta perang modern yang kian mengandalkan drone berbiaya murah menjadi celah kerentanan utama yang dimanfaatkan lawan.
Mantan perwira Angkatan Laut AS sekaligus Chairman Killowen Group, Harlan Ullman, memaparkan analisisnya terkait kesuksesan Iran menekan kekuatan militer AS.
Kepada Al Jazeera, Ullman menegaskan betapa senjata berbiaya terjangkau mampu merusak aset militer bernilai triliunan rupiah.
“Asimetri perang memperlihatkan bahwa negara kecil bersama militer kecil sekalipun dapat menimbulkan kerusakan pada militer terbaik di dunia,” ungkap Harlan Ullman.
Ullman menerangkan bahwa Iran memiliki sejumlah sasaran militer AS yang terbuka di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, serangan drone berukuran kecil terbukti amat efektif melumpuhkan aset vital.
“Iran memiliki sejumlah target AS yang tersedia, dan Anda dapat membayangkan apa yang dapat dilakukan oleh sebuah drone kecil terhadap aset militer utama. Kita telah menyaksikan contoh-contoh hal itu di negara-negara Teluk selama konflik,” tutur Ullman.
Publik AS Berang
Kerugian besar ini pun berbuntut panjang pada konstelasi politik domestik di Washington. Presiden Donald Trump kini dibanjiri kritik usai mengajukan usulan anggaran pertahanan sebesar 1,5 triliun dolar AS (sekitar Rp26.812,5 triliun) demi tahun 2027.
Langkah tersebut memicu gelombang penolakan di Kongres, khususnya dari Partai Demokrat.
Sesejumlah 45 senator Demokrat dan satu senator independen bahkan melayangkan surat terbuka kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth demi menuntut transparansi biaya perang.
Dalam surat terbuka itu, para senator menyoroti beban finansial yang wajib ditanggung rakyat.
“Masyarakat pembayar pajak di Amerika telah mengeluarkan tambahan 100 miliar dolar AS dari kantong mereka sendiri cuma demi harga bensin dan solar yang makin tinggi, serta setidaknya 60 miliar dolar AS lagi demi biaya yang makin tinggi bagaikan bahan pokok, hipotek, dan tiket pesawat sebagai dampak dari perang ini,” tulis para senator.
Para senator mengimbuhkan kecaman keras atas kebijakan perang tersebut. “Kini Anda mengimbau mereka membayar lagi demi membiayai perang pilihan yang tidak sempat diizinkan oleh Kongres dan diluncurkan Presiden tanpa rencana strategis,” tegas mereka dalam surat tersebut.
Secara keseluruhan, CBO mencatat total biaya perang AS bersama Iran per 1 Agustus telah menyedot dana sekitar 38 miliar dolar AS atau setara Rp679,25 triliun. Angka ini mencakup penggantian amunisi, alutsista hancur, hingga lonjakan biaya operasional bahan bakar.
Saat dimintai tanggapan oleh Al Jazeera mengenai laporan kerugian armada udara ini, pihak Pentagon enggan berkomentar sejumlah dan menegaskan tidak ada informasi tambahan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

