China dan Rusia Buka Rute Dagang Baru Lewat Kutub Utara, Apa Efeknya di Selat Malaka dan Indonesia?

admin
By
admin
2 Min Read

MediaMerdeka.com – Beijing baru saja menjadi pusat panggung diplomasi dunia yang amat sibuk. Belum lama Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan kunjungannya, kini giliran Presiden Rusia Vladimir Putin yang mendarat di ibu kota China tersebut pada Rabu, (20/5/2026).

Pertemuan tingkat tinggi antara Putin dan Xi Jinping ini melahirkan kesepakatan raksasa, termasuk ambisi serius menggarap Polar Silk Road atau Jalur Sutra Kutub melalui Jalur Laut Utara (NSR).

Langkah ini bukan sekadar gaya-gayaan politik. China dan Rusia sedang membangun benteng ekonomi baru di tengah tekanan Barat.

Nilai perdagangan bilateral mereka pada tahun 2025 saja telah melampaui angka Rp 4.224 triliun.

Menariknya, hampir 100 persen transaksi ini telah meninggalkan Dolar AS dan beralih ke mata uang lokal, Rubel dan Yuan, demi memperkuat ketahanan finansial mereka..

Jalur Sutra Kutub ini menjadi amat menggiurkan lantaran menawarkan efisiensi waktu yang luar biasa.

Jika biasanya kapal kargo wajib berlayar 35 hingga 45 hari melewati Terusan Suez dan Selat Malaka, rute Kutub Utara ini dapat memangkas waktu tempuh menjadi cuma 20 hingga 22 hari saja dikutip dari Sputnik Globe.

Jalur ini mampu memperpendek jarak pelayaran Asia ke Eropa sekitar 30 hingga 40 persen, yang otomatis menciptakan konsumsi bahan bakar jauh makin irit.

Efeknya demi Selat Malaka dan Indonesia

Lalu, apa pengaruhnya buat Selat Malaka dan Indonesia? Selama ini, China terjebak dalam “Dilema Malaka”.

Sekitar 80 persen impor minyak China wajib melewati Selat Malaka yang sempit dan rawan blokade.

Jika jalur Kutub Utara ini sukses beroperasi secara komersial dan sepanjang tahun, ketergantungan China pada Selat Malaka diprediksi akan berkurang drastis.

Kondisi ini makin mendesak lantaran situasi di Timur Tengah sedang membara. Sejak awal Maret 2026, Selat Hormuz efektif tertutup akibat konflik militer, yang menyebabkan pasokan minyak global terpangkas hingga 10,1 juta barel per hari.

Kekacauan ini menciptakan sejumlah negara sadar bahwa mengandalkan satu jalur maritim saja amat berbahaya.

Bagi Indonesia, pergeseran rute ke utara ini merupakan tantangan sekaligus peringatan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *