Dari Tragedi 98 hingga Isu Papua, Mahasiswa UI Suarakan Kekecewaan Lewat Aksi #Reformati

admin
By
admin
2 Min Read

MediaMerdeka.com – Di bawah temaram cahaya lilin yang membelah kegelapan malam di depan Tugu Makara, nuansa duka menyelimuti Universitas Indonesia.

Rabu malam (20/5/2026), sejumlah kalangan akademisi yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) UI berkumpul bukan demi merayakan sebuah pencapaian, melainkan menggemakan sebuah duka nasional: kematian reformasi.

Melalui seruan #HitamkanUI dan aksi simbolik #Reformati, massa yang kompak mengenakan pakaian serba hitam ini memperingati 28 tahun perjalanan reformasi bersama orasi tajam dan pembacaan puisi yang menyayat hati.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, menegaskan bahwa aksi ini merupakan langkah awal IKM UI dalam mengawal isu ketidak berhasilan mandat reformasi 1998.

Ia menyoroti adanya upaya sistematis dari negara demi menghapus jejak kelam masa lalu.

“Negara menjalankan sesuatu, yakni penyangkalan. Penyangkalan terhadap apa yang terjadi saat masa Orde Baru dan pelanggaran-pelanggaran setelah reformasi,” tegas Yatalathof kepada MediaMerdeka.com di lokasi aksi.

Penyangkalan dan Luka Rakyat yang Terabaikan

Yatalathof menilai kondisi pada saat ini—mengawali dari isu kolonialisme di Papua yang dipotret dalam film Pesta Babi hingga terpuruknya nilai tukar Rupiah—memperlihatkan jurang pemisah yang lebar antara penguasa dan rakyat.

Menurutnya, pihak pemerintah seolah menutup mata dan telinga terhadap realitas di lapangan.

“Tidak ada statement-statement yang sebenarnya positif dalam arti bukan optimis ya, tapi bener-bener memperlihatkan bahwa pihak pemerintah ingin merubah, pihak pemerintah memahami penderitaan rakyat,” tuturnya selepas aksi.

Lebih lanjut, ia mengkritik sikap pihak pemerintah yang dianggap terus menjalankan “gaslighting” terhadap sejarah.

Ia menilai pihak pemerintah justru menjalankan “penyangkalan terhadap apa yang terjadi saat masa Orde Baru dan pelanggaran-pelanggaran pasca reformasi.”

Melawan Lupa: Ruang Aman dan Tragedi ’98

Sentimen serupa disuarakan oleh Ketua BEM Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI, Muhammad Lintang Kasim Azim.

Bagi Lintang, aksi ini merupakan upaya kolektif demi merawat ingatan, terutama terkait isu kemanusiaan yang kerap kali coba dipinggirkan, bagaikan tragedi pemerkosaan massal 1998.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *