Ancaman Efek Domino Konflik AS-Iran, Kriminolog Soroti Potensi Aktivasi Sel Tidur di Indonesia

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas keamanan global, termasuk potensi dampaknya terhadap Indonesia.

Ketegangan memuncak setelah Presiden AS, Donald Trump, mengultimatum Teheran agar kembali ke meja perundingan nuklir atau menyikapi serangan militer lanjutan dalam waktu dekat.

Merespons ancaman tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC melalui saluran resmi Sepah News pada 20 Mei 2026 menegaskan kesiapan mereka memperluas konflik ke wilayah yang tidak sempat dibayangkan oleh Amerika Serikat maupun Israel apabila agresi militer benar-benar terjadi.

Situasi ini menjadi perhatian serius lantaran IRGC telah berstatus organisasi teroris asing versi Amerika Serikat sejak 2019.

Uni Eropa juga resmi memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris pada Januari 2026 menyusul dugaan keterlibatan jaringan siber dan operasi asimetris yang dinilai mengancam keamanan global.

Kriminolog yang fokus pada isu terorisme, Tegar Bimantoro, menilai ancaman teramat nyata untuk Indonesia bukan berupa serangan militer langsung, melainkan efek domino berupa peningkatan aktivitas kelompok radikal domestik.

“Pernyataan perang terbuka dari kelompok sebesar IRGC dapat menjadi pemantik untuk kelompok ekstremis lokal demi bergerak,” ujar Tegar.

Ia menyebut ada dua skenario utama yang pada saat ini perlu diwaspadai aparat keamanan nasional.

Pertama, potensi aktivasi sel tidur dan aksi lone wolf oleh individu atau kelompok yang terpapar ideologi ekstrem, baik dari jaringan ISIS maupun simpatisan militan tertentu.

Menurut Tegar, momentum konflik global kerap dimanfaatkan sebagai alasan solidaritas ideologis demi menjalankan aksi teror mandiri di dalam negeri.

“Kelompok radikal dapat memanfaatkan situasi kacau ini sebagai momentum propaganda maupun aksi,” katanya.

Skenario kedua merupakan menguatnya propaganda anti-Barat di media sosial yang dapat memicu proses rapid radicalization atau radikalisasi cepat.

Narasi bahwa “Barat menyerang Islam” disebut menjadi bahan bakar utama propaganda kelompok ekstremis demi merekrut anggota baru dan membangun sentimen kebencian terhadap aset-aset Barat di Indonesia.

Dalam konteks digital pada saat ini, Tegar menilai ruang penyebaran radikalisme telah bergeser ke dunia siber.

Individu yang terus-menerus terpapar narasi kekerasan dan kebencian berpotensi mempelajari motif, teknik, hingga pembenaran demi menjalankan tindakan teror di wilayahnya sendiri.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *