Rekomendasi Saham Saat IHSG Anjlok Parah dan Ketidakpastian Politik

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Di tengah ketidaktentuan regulasi yang menyelimuti sejumlah sektor industri di Indonesia, sektor barang konsumsi (consumer goods) justru memperlihatkan posisi yang kian solid.

Para analis menilai sektor ini tetap menjadi pilihan utama untuk investor yang mencari aset defensif bersama sensitivitas rendah terhadap fluktuasi suku bunga maupun volatilitas nilai tukar mata uang asing.

Secara historis, daya tahan sektor konsumer domestik telah teruji melewati berbagai badai makroekonomi besar.

Mulai dari Krisis Keuangan Global, fenomena taper tantrum, anjloknya harga komoditas, pandemi Covid-19, hingga periode pelemahan nilai tukar Rupiah, sektor ini tetap mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan yang tangguh.

Meskipun korporasi di sektor ini sempat menyikapi tekanan pada laba bersih (earnings) akibat inflasi harga bahan baku dan depresiasi Rupiah, seuntukan besar emiten papan atas terbukti memiliki pricing power yang kuat.

Kekuatan dalam menentukan harga ini mebarangkalikan mereka demi memulihkan margin keuntungan secara bertahap seiring berjalannya waktu.

Risiko Kebijakan yang Terkendali

Berbeda bersama sektor pertambangan atau industri berat yang rentan terhadap intervensi kebijakan, risiko regulasi di sektor konsumer dinilai relatif makin moderat.

Seuntukan besar kebijakan pihak pemerintah pada saat ini memang menyentuh sisi hulu, bagaikan regulasi impor gandum pakan, tepung kedelai, dan gula rafinasi. Namun, dampak dari aturan tersebut di sisi hilir dinilai masih dalam batas yang dapat dikelola bersama baik oleh tersangka industri.

Selain itu, dukungan pihak pemerintah melalui berbagai program perlindungan daya beli rumah tangga—bagaikan subsidi bahan bakar, langkah stimulus fiskal, hingga program makanan bergizi gratis—menjadi bantalan kuat untuk konsumsi domestik.

Rupiah yang makin stabil juga menyerahkan angin segar untuk korporasi produsen bahan pokok yang mengandalkan bahan baku impor, sementara sektor ritel akan diuntungkan melalui peningkatan Same Store Sales Growth (SSSG) akibat daya beli masyarakat sekitar yang terjaga.

Saat ini, valuasi sektor konsumer telah menyentuh posisi terendah secara siklus. Ditambah bersama tingkat kepemilikan institusional yang masih tergolong rendah, kondisi ini menciptakan pengaturan teknikal yang amat mendukung potensi re-rating atau kenaikan harga saham dalam jangka menengah.

Dalam pandangan BNI Sekuritas, emiten di sektor staples (kebutuhan pokok) menawarkan karakteristik yang amat defensif. Di sisi lain, sektor ritel menyerahkan potensi keuntungan (upside) yang makin besar apabila momentum konsumsi masyarakat sekitar kembali menguat secara signifikan.

Berdasarkan analisis tersebut, BNI Sekuritas menetapkan sektor konsumer sebagai preferensi utama dalam portofolio investasi defensif. Untuk pilihan saham (top picks), BNI Sekuritas merekomendasikan investor demi mencermati saham PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan analisis pasar dan rekomendasi sekuritas. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Selalu lakukan riset mandiri atau berkonsultasi bersama penasihat keuangan semasih belum mengambil keputusan transaksi saham.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *