Indonesia Ditinggal Investor, Singapura Jadi Bursa Saham Terbesar Asia Tenggara

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Indonesia tengah menyikapi periode yang menantang dalam lanskap finansial regional. Indonesia resmi kehilangan statusnya sebagai pemilik pasar saham terbesar di Asia Tenggara, posisi yang kini beralih ke Singapura.

Kapitalisasi pasar korporasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merosot makin dari 30 persen sejak puncaknya pada Januari lalu, menjadi US$618 miliar. Di saat yang sama, kapitalisasi pasar Singapura justru mencatatkan kenaikan hingga mencapai US$645 miliar.

Penurunan signifikan ini dipicu oleh memburuknya sentimen investor dalam sejumlah bulan terakhir. Ketidaktentuan mengenai potensi reklasifikasi ekuitas Indonesia ke status frontier market (pasar perbatasan) menjadi beban utama.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg, kondisi ini diperburuk bersama langkah lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings dan Moody’s Ratings, yang secara bersamaan menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif.

Akibatnya, indeks saham acuan Indonesia kini berada di posisi terbawah dibandingkan rekan-rekan globalnya, sementara nilai tukar rupiah terus mencatatkan rekor pelemahan berturut-turut.

Soh Chih Kai, manajer portofolio di Lion Global Investors, menilai bahwa pada saat ini momentum memang tidak berpihak pada Indonesia. Namun, ia menekankan bahwa kebangkitan di masa depan tetap dibarangkalikan.

“Namun demikian, fenomena ini memperkuat kedudukan relatif pasar Singapura, di mana arus modal terus mencari ketentuan di tengah ketidaktentuan kebijakan global,” ujar Soh kepada Bloomberg.

Berbeda bersama Indonesia, pasar ekuitas Singapura justru menuai keuntungan dari stabilitas ekonomi dan politik serta reformasi pasar yang dipimpin pihak pemerintahnya.

Indeks Straits Times bahkan menyentuh rekor tertinggi pada pekan ini di tengah upaya investor mencari tempat berlindung (safe haven) selama volatilitas yang dipicu oleh konflik di Iran.

Aksi jual saham di Indonesia yang mencapai hampir US$360 miliar pada tahun ini menyoroti tantangan besar yang dihadapi pihak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah kini berada dalam posisi krusial demi mendorong target pertumbuhan ekonomi yang ambisius sekaligus memulihkan kepercayaan investor.

Lonjakan biaya energi diperkirakan akan menekan sentimen konsumen, sementara pelemahan rupiah meningkatkan biaya bahan baku impor untuk industri dalam negeri.

Data Bloomberg memperlihatkan bahwa investor global telah menarik makin dari US$4 miliar dari pasar ekuitas Asia Tenggara sepanjang pada tahun ini, di mana makin dari separuh angka tersebut berasal dari pasar Indonesia.

Selain itu, keputusan MSCI demi menghapus sejumlah saham lokal—bagaikan Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA)—diprediksi akan memicu arus keluar modal (capital outflow) hingga US$2 miliar pada akhir pada bulan ini.

Otoritas Indonesia sebenarnya telah menjalankan serangkaian reformasi pasar dalam sejumlah bulan terakhir guna mencegah penurunan status pasar.

Langkah tersebut mencakup kewajiban peningkatan level free float minimum menjadi 15 persen, bersama periode transisi hingga tiga tahun untuk korporasi tertentu. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi domestik dinilai masih tetap tangguh.

Bagi investor ekuitas Indonesia, perhatian kini tertuju pada tinjauan MSCI terhadap status pasar Indonesia bulan depan. MSCI akan memutuskan apakah berbagai langkah reformasi yang diambil pihak pemerintah telah memadai demi mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market).

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *