Studi: Bahan Kimia Berbahaya dari Busa Pemadam Kebakaran Bertahan di Lingkungan hingga 33 Tahun

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa kontaminasi Perfluoroalkyl and Polyfluoroalkyl Substances (PFAS) atau yang kerap disebut “bahan kimia abadi” dapat bertahan di lingkungan selama puluhan tahun setelah terjadi satu insiden pencemaran.

Penelitian yang dikutip dari Phys.org meneliti dampak dua kecelakaan truk tangki bahan bakar yang terjadi di kawasan tangkapan air minum Australia, yakni di Medlow Bath, Blue Mountains pada 1992 dan Ourimbah pada 2000.

Dalam kedua peristiwa tersebut, petugas pemadam kebakaran memakai busa pemadam api yang mengandung perfluorooktana sulfonat (PFOS), salah satu jenis PFAS yang saat itu sejumlah digunakan secara global.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kontaminasi PFAS dari proses pemadaman kebakaran tersebut tidak terdeteksi selama 24 hingga 33 tahun. Tidak adanya sistem pemantauan khusus menciptakan pencemaran berlangsung tanpa diketahui hingga akhirnya ditemukan dalam pengujian terbaru.

PFAS merupakan kelompok ribuan bahan kimia sintetis yang sejumlah digunakan dalam berbagai produk sehari-hari, mengawali dari peralatan masak anti lengket, tekstil tahan air, hingga kemasan makanan. Senyawa ini dikenal amat sulit terurai secara alami berakibat dapat bertahan lama di tanah, air, dan jaringan makhluk hidup.

Berbagai penelitian semasih belumnya memperlihatkan bahwa paparan PFAS dalam jangka panjang dapat dikaitkan bersama peningkatan risiko sejumlah masalah kesehatan, bagaikan gangguan kesuburan, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, penyakit hati, obesitas, hingga sejumlah jenis kanker.

Mencemari Pasokan Air Minum

Dampak pencemaran tersebut juga ditemukan pada sumber air minum masyarakat sekitar. Di kawasan Upper Blue Mountains yang memasok kebutuhan air untuk sekitar 40.000 penduduk, kadar PFOS dalam air minum tercatat mencapai 16,4 nanogram per liter pada Juni 2024.

Angka tersebut melampaui batas aman yang direkomendasikan dalam pedoman setempat dan menyebabkan dua waduk penyimpanan air wajib ditutup sementara demi mencegah risiko paparan makin lanjut.

Pengujian lanjutan pada Oktober 2025 menemukan kondisi yang makin mengkhawatirkan. Kadar PFOS di sungai yang terkontaminasi tercatat berada pada kisaran 2.000 hingga 2.400 nanogram per liter atau sekitar 250 hingga 300 kali makin tinggi dibanding ambang batas aman maksimum yang direkomendasikan, yakni di bawah 8 nanogram per liter.

Kontaminasi juga ditemukan di kawasan Warisan Dunia UNESCO Blue Mountains. Di sejumlah lokasi, kadar PFAS dilaporkan memakini ambang batas perlindungan spesies air tawar hingga 100 kali lipat, menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan ekosistem setempat.

Pentingnya Pemantauan Jangka Panjang

Peneliti menyoroti bahwa hingga kini masih belum ada upaya remediasi atau pembersihan tanah dan sumber air yang terkontaminasi di lokasi tersebut. Kondisi itu memperlihatkan bahwa satu insiden pencemaran yang melibatkan PFAS dapat meninggalkan dampak lingkungan dalam jangka waktu yang amat panjang.

Temuan ini sekaligus menegaskan pentingnya sistem pemantauan kualitas air dan lingkungan yang berkelanjutan, terutama di kawasan sumber air minum. Menurut para peneliti, deteksi dini dapat menolong mencegah pencemaran meluas dan mengurangi risiko kesehatan masyarakat sekitar maupun kerusakan ekosistem di masa depan.

Studi tersebut menambah bukti bahwa PFAS merupakan salah satu tantangan lingkungan yang membutuhkan perhatian jangka panjang. Meski penggunaannya telah dibatasi di sejumlah negara, jejak pencemaran dari masa lalu masih dapat ditemukan puluhan tahun lalu dan terus memengaruhi kualitas lingkungan serta sumber daya air.

Penulis: Vicka Rumanti

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *