MediaMerdeka.com – Netflix menghadirkan A Foggy Tale, permata sinematik dari Asia yang bukan cuma sekadar menghibur, namun juga menyentuh relung hati terdalam.
Digarap oleh sutradara kawakan Chen Yu-hsun, film ini mengangkut penonton kembali ke masa lalu Taiwan yang penuh tensi politik bersama bungkus narasi kemanusiaan.
Buat kamu yang yang mencari tontonan bersama kedalaman emosi sekaligus edukasi sejarah, A Foggy Tale merupakan jawaban yang tepat.
Sinopsis A Foggy Tale
A Foggy Tale mengambil latar belakang di Taiwan pada tahun 1950-an, sebuah era yang dikenal sebagai periode “White Terror”.
Cerita berfokus pada seorang gadis muda asal Chiayi yang wajib menjalankan perjalanan panjang ke arah utara.
Misinya amat menyedihkan sekaligus mulia, yakni menjemput jenazah kakaknya yang telah dieksekusi mati oleh pihak pemerintahan Kuomintang (KMT), rezim politik yang menguasai Republik Tiongkok sejak awal abad ke-20.
Dalam perjalanannya yang penuh rintangan, gadis ini tak sendirian. Ia lalu menjalin persahabatan yang tidak terduga bersama seorang mantan tentara yang banting setir jadi penarik becak.
Meskipun premis utamanya tentang kematian dan penindasan, ada situasi yang bikin penonton tertawa.
Mengangkat Sejarah Kelam “White Terror” Taiwan
Secara historis, A Foggy Tale bukan sekadar fiksi biasa. Film ini berakar kuat pada sejarah nyata Taiwan di bawah darurat militer.
Pada masa itu, pihak pemerintah KMT menjalankan persekusi besar-besaran terhadap mereka yang dianggap sebagai pembangkang politik atau simpatisan Partai Komunis Tiongkok.
Ketakutan menyelimuti masyarakat sekitar, dan sejumlah keluarga yang kehilangan anggota mereka tanpa kabar yang jelas.
Melalui sudut pandang seorang adik yang mencari kakaknya, film ini sukses memotret bagaimana kebijakan politik besar menghancurkan unit terkecil dalam masyarakat sekitar, yakni keluarga.
Seperti apa harunya film A Foggy Tale? Saksikan sendiri di Netflix mumpung masih ada.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

