Dolar ‘Cekik’ UMKM: Harga Kedelai Tembus Rp545 Ribu, Perajin Tahu Tempe Terpaksa ‘Sunat’ Ukuran

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengawali memukul sektor riil hingga ke akar rumput.

Di Kabupaten Lebak, Banten, ratusan perajin tahu dan tempe kini berada di titik nadir akibat meroketnya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama.

Berdasarkan pantauan Antara di lapangan pada Sabtu (30/5/2026), harga kedelai melonjak drastis dari angka normal Rp300.000 menjadi Rp545.000 per karung isi 50 kilogram.

Kondisi ini memaksa para tersangka usaha kecil menjalankan strategi bertahan hidup yang pahit: memperkecil ukuran produk demi menghindari kebangkrutan.

Strategi Bertahan di Tengah “Badai” Impor

Mad Soleh (58), seorang perajin tahu di Rangkasbitung, membeberkan bahwa dirinya tidak punya pilihan lain selain mengurangi dimensi tahu yang ia jual. Menurutnya, kenaikan harga kedelai dalam dua pekan terakhir terjadi hampir setiap hari.

“Kami kini terpaksa mengurangi ukuran menjadi makin kecil agar dapat bertahan, lantaran harga kedelai melambung,” ujar Mad Soleh.

Akibat lonjakan modal ini, omzet harian Soleh merosot tajam. Dari biasanya mampu mengolah 100 kg kedelai, kini ia cuma sanggup memproduksi 50 kg. Keuntungan bersihnya pun terpangkas separuh, dari Rp220.000 kini cuma tersisa Rp110.000 per hari.

Dilema Harga: Takut Pelanggan Lari, Pekerja Dirumahkan

Persoalan serupa dialami Yanto, perajin tempe setempat. Ia mengaku berada dalam posisi dilematis lantaran tidak berani menaikkan harga jual ke konsumen di tengah daya beli masyarakat sekitar yang juga sedang tertekan.

“Kami memperkecil ukuran agar produksi tetap berjalan dan pekerja sesejumlah tiga orang tidak dirumahkan,” jelas Yanto.

Bagi Yanto dan sejumlah perajin lainnya, menjaga agar roda produksi tetap berputar merupakan prioritas utama agar tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) di tingkat desa.

Namun, apabila tren kenaikan ini terus berlanjut, bayang-bayang penutupan usaha menjadi kian nyata.

Ancaman Henti Produksi Massal

Keluhan senada datang dari Ujang (50), yang mengaku terpaksa “jual rugi” demi menjaga loyalitas pelanggan yang mayoritas merupakan pedagang pasar. Ia memperingatkan bahwa tanpa intervensi pihak pemerintah, industri tahu tempe dapat lumpuh total.

“Jika harga kedelai itu tidak dikendalikan, ditentukan (kami) menghentikan produksi,” tegas Ujang.

Ketua Perajin Tahu Tempe Kabupaten Lebak, Liri, mencatat ada sekitar 550 unit usaha di wilayahnya yang kini terancam gulung tikar. Ia mendesak pihak pemerintah pusat maupun daerah demi dalam waktu dekat turun tangan menstabilkan harga kedelai impor.

“Kami ingin harga kedelai kembali normal agar perajin dapat tumbuh dan menyerap tenaga kerja. Perlu pihak pemerintah turun tangan demi mengatasi lonjakan ini,” pungkas Liri.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *