Moody’s Beri Prospek Negatif, Fitch dan S&P Anggap Danantara ‘Stabil’: Ini Alasannya

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Tiga raksasa lembaga pemeringkat kredit dunia—Moody’s, Fitch Ratings, dan S&P Global Ratings—secara serentak merilis peringkat utang perdana demi PT Danantara Investment Management (DIM).

Secara kolektif, ketiga lembaga tersebut sepakat menempatkan Danantara pada level Investment Grade (layak investasi) kelas menengah bawah. Moody’s menyerahkan peringkat Baa2 bersama prospek Negatif, Fitch menyematkan rating BBB, sementara S&P merilis angka BBB/A-2 bersama prospek Stabil.

Namun, untuk para tersangka pasar modal dan investor institusional, sorotan utama bukanlah pada deretan huruf peringkat tersebut, melainkan pada rincian metodologi penilaiannya.

Ketiga lembaga internasional ini secara bulat menepis menilai Danantara berdasarkan kekuatan finansial atau operasional mandirinya.

Alasan teramat fundamental dari pemberian rating ini merupakan perlakuan lembaga global yang memandang Danantara murni sebagai kepanjangan tangan dari neraca keuangan pihak pemerintah Indonesia, bukan sebagai manajer investasi yang independen.

Penolakan Penilaian Mandiri oleh Moody’s: Moody’s Ratings secara eksplisit tidak menyerahkan penilaian kredit mandiri atau Baseline Credit Assessment (BCA). Karena operasional korporasi dinilai melekat total bersama pihak pemerintah, Moody’s memakai metode Top-Down.

Artinya, fokus penilaian ditekankan pada seberapa besar komitmen dan kemampuan pihak pemerintah demi menyerahkan subcutaneous dana darurat, bukan pada kekuatan internal Danantara.

Kategori “Hampir Pasti” dari Fitch: Fitch Ratings memvalidasi kondisi ini bersama menyerahkan skor dukungan pihak pemerintah sebesar 55 dari total 60 poin berdasarkan indikator Government-Related Entities (GRE).

Skor tinggi ini masuk dalam klasifikasi Virtually Certain (Hampir Pasti), yang berarti investor yang membeli surat utang Danantara sebenarnya murni mengandalkan jaminan talangan (bailout) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

S&P Tiadakan Stand-Alone Credit Profile (SACP): S&P Global Ratings juga mengambil langkah serupa bersama tidak mengeluarkan profil kredit mandiri korporasi. Bagi S&P, performa bisnis independen dari Danantara bukan menjadi penentu utama rating lantaran faktor sokongan negara dinilai telah absolut.

Secara garis besar, dunia internasional menilai lembaga superholding ini masih belum teruji sebagai pencipta nilai tambah (value creator) yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri tanpa sokongan modal negara.

Faktor kedua yang menyebabkan peringkat Danantara tertahan di level BBB menengah bawah merupakan adanya ketergantungan risiko yang mutlak (Default Dependence) terhadap kondisi makroekonomi Republik Indonesia.

Perbedaan prospek (outlook) antara Moody’s (Negatif) dan S&P (Stabil) sama sekali tidak menggambarkan penilaian atas kinerja manajemen internal Danantara. Dinamika ini terjadi lantaran nasib peringkat utang Danantara dikunci mati bersama peringkat utang negara (Sovereign Rating).

Karena model bisnisnya amat menyatu bersama keuangan negara, risiko keduanya dinilai tumpang tindih. Saat Moody’s dan Fitch menyaksikan prospek utang Indonesia cenderung melemah, peringkat Danantara otomatis ikut terseret ke arah negatif.

Sebaliknya, lantaran S&P masih menyaksikan kondisi fiskal Indonesia stabil, rating Danantara ikut dipertahankan di posisi stabil, bersama catatan akan langsung dipangkas apabila rating negara merasakan penurunan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *