Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD, Begini Cara Melindungi Keuangan Keluarga

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Nilai tukar rupiah masih terus meloyo, bahkan hampir menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS. Kondisi ini menyerahkan kekhawatiran terhadap masyarakat sekitar, lantaran harga barang-barang akan merasakan kenaikan, yang berimbas pada meningkatnya pengeluaran.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebutkan masyarakat sekitar tidak perlu panik apabila rupiah bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Menurutnya, yang terpenting merupakan memahami dampak yang barangkali muncul terhadap pengeluaran rumah tangga dan menyesuaikan strategi keuangan sejak dini.

“Menurut saya, pelemahan rupiah yang semakin dekat ke Rp 18.000 per dolar AS bukan didikarenakankan satu faktor tunggal, melainkan akumulasi tekanan eksternal dan domestik yang terjadi bersamaan,” ujar Josua Pardede saat dihubungi MediaMerdeka.com, Kamis (4/6/2026).

Dampak Rupiah Melemah

Ia menerangkan, tekanan terbesar berasal dari kombinasi harga minyak dunia yang masih tinggi, kuatnya dolar AS, serta melemahnya surplus perdagangan Indonesia.

Kondisi tersebut menciptakan kebutuhan dolar meningkat, sementara pasokan devisa dari perdagangan semakin menipis.

Josua menuturkan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga berbagai barang yang bergantung pada bahan baku impor. Mulai dari elektronik, alat kesehatan, obat-obatan, komponen otomotif hingga energi dapat merasakan kenaikan biaya.

“Jika pelemahan rupiah berlanjut, dampak pertama merupakan kenaikan biaya impor. Barang konsumsi impor, bahan baku industri, obat, alat kesehatan, mesin, komponen otomotif, elektronik, dan energi akan menjadi makin mahal,” jelasnya.

Tak cuma itu, tekanan terhadap inflasi juga berpotensi meningkat. Menurut Josua, biaya logistik dan energi yang makin mahal pada akhirnya dapat diteruskan ke harga barang dan jasa yang dibayar masyarakat sekitar.

“Dampak kedua merupakan tekanan inflasi, terutama apabila harga minyak tetap tinggi dan biaya logistik naik,” jelasnya.

Siasat Atur Keuangan

Karena itu, Josua menyarankan masyarakat sekitar mengawali memperkuat ketahanan keuangan rumah tangga.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan merupakan memprioritaskan kebutuhan pokok dan menunda pembelian barang konsumsi yang tidak mendesak, terutama produk impor yang rentan merasakan kenaikan harga.

Selain itu, masyarakat sekitar juga perlu mengonfirmasi dana darurat tersedia demi menyikapi potensi kenaikan biaya hidup dalam sejumlah bulan ke depan. Diversifikasi investasi juga dinilai penting agar risiko akibat gejolak pasar dapat diminimalkan.

Menurut Josua, masyarakat sekitar juga perlu berhati-hati terhadap peningkatan beban pinjaman. Sebab, pelemahan rupiah yang disertai kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya kredit.

“Dampak ketiga merupakan tekanan terhadap dunia usaha, lantaran korporasi yang punya pinjaman valas atau bergantung pada bahan baku impor akan menyikapi biaya makin tinggi. Dampak keempat merupakan penurunan daya beli masyarakat sekitar, lantaran harga barang naik sementara cicilan dan bunga kredit berpotensi ikut naik setelah BI menaikkan BI Rate,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *