Rupiah Semakin Tak Berharga, SBY Beberkan Ciri Pemimpin yang Kuat

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Presiden Ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menguraikan pentingnya menjaga kepercayaan publik dalam menyikapi ketidaktentuan global bagaikan kini.

Pesan itu disampaikan SBY saat perekonomian Indonesia sedang menyikapi badai dari segala arah, termasuk semakin tidak berharganya rupiah dan ambruknya indeks harga saham gabungan atau IHSG.

Nilai tukar rupiah pada Kamis telah menyentuh Rp18.000 per dolar AS, rekor teramat buruk dalam sejarah republik. Sementara IHSG turun nyaris 2 persen ke 5.826.

Para analis menyebutkan ambruknya rupiah dan IHSG salah satunya didikarenakankan oleh semakin terkikisnya kepercayaan investor dan publik terhadap kredibilitas kebijakan pihak pemerintah Presiden Prabowo Subianto.

SBY menyebutkan dunia pada saat ini tengah memasuki era ketidaktentuan yang ditandai bersama berbagai tantangan global, mengawali dari meningkatnya rivalitas geopolitik, perang dan konflik di berbagai wilayah, dan perubahan rantai pasok global.

“Kepemimpinan yang kuat merupakan tentang menjaga kepercayaan publik dan menciptakan peluang di tengah berbagai disrupsi,” kata SBY pada The 2026 Asia Grassroots Forum by Amartha di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Berdasarkan pengalamannya memimpin Indonesia pada masa krisis dan transisi, termasuk dampak krisis Asia 1997-1998, tsunami Aceh pada 2004, hingga krisis keuangan global 2008, SBY memaparkan sejumlah prinsip kepemimpinan yang dibutuhkan di tengah ketidaktentuan.

Menurut dia, pemimpin wajib tetap tenang saat menyikapi situasi sulit lantaran kepanikan dapat memperlemah institusi.

“Ketakutan menyebar bersama cepat pada masa-masa sulit. Kepanikan melemahkan institusi. Seorang pemimpin wajib tetap tenang, jujur dan memiliki arah yang jelas,” ujarnya.

Selain itu, ia menyampaikan bahwa pemimpin juga perlu mampu menggabungkan pragmatisme bersama prinsip. Dalam dunia yang semakin kompleks, menurutnya, negara wajib adaptif dan realistis, tapi tetap berpegang pada nilai-nilai dasar.

Ia juga menekankan pentingnya visi jangka panjang dalam kepemimpinan. Menurut dia, pembangunan sumber daya manusia, reformasi institusi, ketahanan iklim, dan inovasi tidak dapat diwujudkan dalam waktu singkat.

Selain itu, SBY menilai kepemimpinan wajib bersifat inklusif agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat sekitar.

“Pertumbuhan yang cuma dinikmati oleh seuntukan kecil kelompok masyarakat sekitar pada akhirnya akan menimbulkan ketidakstabilan,” katanya.

Meski tantangan global semakin kompleks, SBY mengaku tetap optimistis terhadap masa depan ASEAN dan Indonesia.

Menurut dia, optimisme tersebut bukan lantaran tantangan yang dihadapi relatif kecil, melainkan lantaran kawasan ASEAN memiliki modal yang kuat berupa populasi muda, wirausaha yang dinamis, ekosistem digital yang terus berkembang, masyarakat sekitar yang tangguh, serta sumber daya manusia yang besar.

SBY menyebutkan kekuatan tersebut tidak cuma berada di kota-kota besar atau korporasi besar, namun juga di desa-desa, komunitas lokal, tersangka usaha kecil, serta jutaan masyarakat sekitar yang terus bekerja, berusaha, dan membangun harapan di tengah ketidaktentuan.

Ia meyakini modal tersebut akan menjadi fondasi penting untuk ASEAN dan Indonesia demi menyikapi berbagai tantangan global pada masa mendatang.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *