MediaMerdeka.com – Wacana pembatasan kadar nikotin dan TAR maksimal 1 miligram nikotin dan 10 miligram TAR per batang dinilai berpotensi berdampak terhadap penyerapan tembakau lokal hasil panen petani.
Ketua Kelompok Tanaman Semusim Direktorat Tanaman Semusim Kementan Yudi Wahyudi menyebutkan diperlukan masa transisi yang panjang demi menyiapkan varietas tembakau rendah nikotin yang mampu beradaptasi bersama iklim tropis.
Kementan bahkan menilai masa transisi hingga 30 tahun diperlukan untuk peneliti BRIN dan Kementan demi merakit varietas rendah nikotin.
Tanpa waktu yang memadai, Yudi khawatir industri nasional justru merasakan kelumpuhan semasih belum varietas tembakau yang sesuai bersama ketentuan sukses dikembangkan.
“Keaparatur negara kementerianan Pertanian tidak dilibatkan secara menyeluruh dalam pembahasan ini lantaran rancangan aturan ini berlandaskan pada mandat undang-undang Kesehatan aspek hilir konsumsi, tanpa berpijak pada undang-undang pertanian di aspek hulu produksi,” ujar Yudi di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Ia menerangkan, tembakau lokal bagaikan Kemloko di Temanggung dan Mole di Jawa Barat memiliki karakteristik yang terbentuk oleh kondisi tanah vulkanik dan paparan sinar matahari.
Kondisi tersebut menciptakan kadar nikotin alaminya berada di kisaran 3 hingga 8 miligram per batang.
Sementara demi menurunkan kadar nikotin hingga di bawah 1 miligram, dibutuhkan puluhan generasi persilangan genetik secara konvensional.
Menurut Yudi, proses tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat lantaran setiap generasi tanaman membutuhkan satu musim tanam penuh.
“Setiap generasi tanaman membutuhkan waktu satu musim tanam penuh. Untuk menstabilkan sifat rendah nikotin tanpa merusak daya tahan tanaman terhadap hama lokal, dibutuhkan puluhan generasi persilangan,” jelas Yudi.
Ia pun mengingatkan bahwa masa transisi 30 tahun sekalipun masih belum dapat menyerahkan jaminan mutlak varietas baru dapat tumbuh seragam di seluruh Indonesia.
Sementara, cKepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN Setiari Marwanto menyebutkan penerapan batasan nikotin secara terburu-buru berpotensi menimbulkan gejolak. Menurutnya, dibutuhkan tenggat waktu yang panjang lantaran perubahan karakteristik tanaman tembakau di tingkat petani tidak mudah dilakukan.
Pengurangan kadar nikotin tanaman tembakau dipengaruhi berbagai faktor, mengawali dari penggunaan pupuk nitrogen, pemilihan varietas hingga perubahan formulasi campuran di tingkat pabrik.
“Padahal kadar nikotin sendiri amat dipengaruhi sejumlah faktor lantaran unsur utamanya berkaitan bersama nitrogen,” jelas Setiari.
BRIN mencatat dari makin dari 1.200 koleksi plasma nutfah tembakau lokal yang dimiliki, rata-rata kandungan nikotin alaminya berada di atas 2 persen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian lantaran komoditas tembakau lokal berpotensi tidak terserap oleh pabrikan apabila aturan batas nikotin diterapkan tanpa kesiapan yang memadai.
“Itu juga menjadi perhatian kami. Karena itulah dalam rapat koordinasi semasih belumnya disepakati agar kebijakan yang bersentuhan langsung bersama tembakau petani ditunda termakin dahulu sampai seluruhnya benar-benar ditentukan aman,” pungkasnya
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

