IHSG Ambruk 4,11 Persen, Purbaya Sebut Rumor Downgrade Rating Indonesia Picu Kepanikan Pasar

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merasakan tekanan hebat pada perdagangan Rabu (3/6/2026), bersama penurunan mencapai 4,11 persen atau 254,36 poin ke level 5.941.

Di tengah aksi jual besar-besaran yang mengguncang pasar modal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menilai kejatuhan pasar saham makin dipicu oleh sentimen negatif dan rumor yang beredar dibandingkan kondisi fundamental ekonomi nasional.

Menurut Purbaya, berbagai isu yang berkembang di pasar telah memicu kekhawatiran investor, terutama kabar mengenai potensi penurunan peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional.

“Karena sejumlah isu-isu negatif,” kata Purbaya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6).

Ia mencontohkan rumor yang menyebut Standard & Poor’s (S&P) akan menurunkan rating Indonesia. Purbaya bahkan membantah kabar tersebut dan mengaku baru dijadwalkan bertemu bersama pihak S&P pada malam harinya.

“Ada rumor S&P akan mendowngrade Indonesia. Padahal saya baru mau ketemu nanti malam,” ujarnya.

Purbaya: Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Di tengah anjloknya IHSG, Purbaya menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang sehat. Ia membantah anggapan bahwa inflasi yang berada di kisaran 3 persen menjadi pemicu utama gejolak pasar.

Menurutnya, inflasi pada saat ini masih berada dalam rentang target Bank Indonesia, yakni 2,5 persen bersama toleransi plus minus 1 persen.

Purbaya juga menyoroti sejumlah indikator ekonomi yang dinilai masih memperlihatkan ketahanan, mengawali dari penerimaan pajak hingga konsumsi domestik.

“Fundamental ekonomi bagus. Ini barangkali ada ketakutan orang jangka pendek saja. Fondasi ekonomi bagus, enggak ada masalah. Pendapatan pajak di Mei aja masih kencang,” katanya.

Ia mengimbuhkan, aktivitas ekonomi di berbagai daerah masih berjalan cukup ramai. Tingkat kunjungan ke pusat hiburan, hotel, dan sektor jasa lainnya dinilai menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat sekitar masih belum merasakan pelemahan signifikan.

“Domestic demand masih kuat, daya beli masyarakat sekitar masih cukup kuat,” ujar Purbaya.

Investor Panik, Transaksi Tembus Rp25 Triliun

Meski pihak pemerintah berupaya menenangkan pasar, tekanan jual tetap mendominasi perdagangan saham. Data RTI Infokom mencatat nilai transaksi mencapai Rp25,21 triliun bersama volume perdagangan sesejumlah 40,06 miliar saham.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *