Menkeu Purbaya Ramal Rupiah Menguat 3 Bulan Lagi

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar AS dapat menguat dalam tiga bulan ke depan. 

Menkeu Purbaya meramal ini dari situasi global, di mana perang Amerika Serikat vs Iran yang terjadi di Timur Tengah kebarangkalian mendekati akhir. 

“Berita menyebutkan bahwa AS, Iran, dan Israel amat dekat demi menciptakan kesepakatan. Jadi prospek kondisi global akan leboh baik. Saya percaya dalam dua atau tiga bulan akan jauh makin baik daripada kini, yang berarti pertukaran yang menurunkan Rupiah juga akan hilang,” katanya saat konferensi pers di Wisma Danantara, dikutip Selasa (3/6/2026).

“Jadi ekonomi akan makin kuat, dan juga rupiah dapat makin kuat,” lanjutnya.

Untuk jangka pendek, Purbaya menyebut Pemerintah memiliki strategi lewat Bank Indonesia (BI) demi ikut investasi ke pasar obligasi. Dengan ini maka kenaikan imbal hasil (yield) milik Pemerintah tidak naik terlalu tinggi.

Bendahara Negara menyebutkan bila ini ditujukan agar para investor global yang memiliki obligasi Pemerintah tidak kehilangan nilai investasinya (capital loss). 

“Itu juga akan mencegah mereka demi mengangkut uangnya ke luar negeri,” lanjutnya.

Purbaya percaya bahwa koordinasi Pemerintah bersama BI dapat menciptakan kondisi sektor keuangan negara tetap kuat dan stabil.

“Dan bersama kerja sama yang baik, saya percaya bahwa akhirnya kita akan dapat mengembalikan kepercayaan terhadap Rupiah,” jelasnya.

Sementara itu pada penutupan perdagangan per Rabu (3/6/2026), nilai tukar Rupiah terus melemah hingga ke level Rp 17.965 per Dolar AS.

Data Bloomberg memperlihatkan rupiah terperosok 127 poin atau 0,71 persen dibandingkan posisi penutupan semasih belumnya di level Rp17.839 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah di tengah meningkatnya ketidaktentuan ekonomi global dan memburuknya sentimen pasar keuangan.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi faktor eksternal yang semakin kuat. Salah satunya merupakan lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Selain pelemahan akibat dampak eskalasi di Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah dunia juga menjadi faktor yang membebani rupiah,” ujar Lukman kepada MediaMerdeka.com.

Menurutnya, kondisi semakin diperparah oleh aksi jual investor asing di pasar saham domestik. Arus keluar modal asing atau capital outflow menciptakan permintaan terhadap dolar AS meningkat berakibat menekan nilai tukar rupiah.

Lukman memperingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih belum berakhir. Bahkan, apabila Bank Indonesia tidak menjalankan intervensi secara agresif, rupiah berpotensi menembus level Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

“Sentimen risk-off besar di pasar ekuitas dan net sell asing juga ikut menekan rupiah. Dengan percepatan ini dan tanpa intervensi agresif dari BI, rupiah amat berpotensi menembus Rp18.000 esok hari,” tegasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *