Pertamina Akselerasi Transisi Energi Nasional Lewat Inovasi Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Pertamina terus memperkuat komitmennya dalam mendukung ketahanan serta transisi energi. Hal ini dijalankan melalui dual growth strategy. Pertama, Pertamina berupaya memaksimalkan legacy bisnis (maximizing legacy business) yakni memaksimalkan potensi nilai di aspek hulu, membangun fleksibilitas di kilang, menjalankan transformasi bisnis retail fuel, serta memperluas infrastruktur dan layanan. Kedua, membangun bisnis rendah karbon (building low carbon business).

Hal tersebut disampaikan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, pada sesi diskusi panel bertema “Decarbonization : Global Technology Trends and Best Practices”. (Rabu, 3/6).

Sesi ini merupakan untukan dari rangkaian kegiatan “World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific”, sebuah forum regional terkait transisi energi berkelanjutan di Asia Timur dan Pasifik, diinisiasi oleh “World Bank Group”.

Dalam pemaparannya “Accelerating Energy Transition Through Industrial Decarbonization and Low Carbon Business”, Agung menerangkan bagaimana transisi energi di jalankan dalam upaya mencapai target Net Zero Emission (NZE) di tahun 2060.

Agung menyebutkan, Pertamina pada saat ini memiliki visi, menjaga keamanan energi nasional dan mendorong transisi energi melalui program dekarbonisasi terintegrasi dan membangun bisnis rendah karbon. Hal ini sejalan bersama Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto.

Dalam konteks Pertamina, jelas Agung, transisi energi yang dijalankan di Indonesia wajib diseimbangkan bersama tantangan energi trilema yakni Energy security, affordability dan juga sustainability.

“Dan di situ saya yakin Pertamina menjadi sebuah contoh, lantaran di saat dunia ini menyikapi sejumlah ketidaktentuan secara geopolitik, bersama adanya konflik di berbagai belahan dunia, lalu juga ketidaktentuan mengenai bagaimana penanganan climate change,” ujar Agung.

Inisiatif dan langkah demi menjalankan dekarbonisasi yang dilakukan Pertamina menjadi pembelajaran untuk para peserta dari berbagai negara.

“Pertamina mendorong pemanfaatan geothermal (panas bumi) sebagai energi bersih serta pengurangan flaring. Pertamina juga mengembangkan energi baru dan terbarukan melalui bisnis rendah karbon, bagaikan biodiesel, bioethanol, lalu juga rencana pengembangan CCS/CCUS (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage),” urai Agung.

Dalam aspek dekarbonisasi, dilakukan pengantian peralatan berbahan bakar fosil bersama peralatan bertenaga listrik. Program ini menghasilkan efisiensi energi sebesar 1,52 MMtCO2e (Million Metric Tons Of Carbon Dioxide), menyumbang 66,86 persen dari total upaya pengurangan emisi Pertamina.

Dalam aspek bisnis rendah karbon, dilakukan melalui inovasi bahan bakar nabati (biofuel). Diprediksi akan ada potensi penjualan biofuel sebesar 60 Juta kl pada tahun 2029, bersama proyek utama Bio Refinery Cilacap.

Pertamina berupaya memaksimalkan potensi listrik bersama kapasitas 1,4 GW (Gigawatt) dari panas bumi melalui proyek di Hululais dan Lahendong. Salah satu proyek strategis yang tengah dikembangkan merupakan Proyek Geothermal Lahendong Unit 7 & 8 yang telah masuk dalam Green Book Keaparatur negara kementerianan PPN/Bappenas demi mendukung transisi energi dan pembangunan rendah karbon.

Masuknya proyek ini dalam Green Book membuka peluang dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan internasional, termasuk World Bank, berakibat dapat mempercepat pengembangan kapasitas panas bumi nasional sekaligus memperkuat bauran energi bersih Indonesia.

Pertamina juga berkomitmen mengurangi emisi metana (CH4) sebesar 40% dari emisi dasar pada tahun 2021. Di sektor hulu terdapat program zero flaring. Program ini didukung bersama kampanye deteksi dan perbaikan kebocoran, melalui program Leak Detection & Repair Campaign atau LDAR. Program ini sukses mengurangi emisi metana yang tidak terkontrol sebesar 30-39,7 persen.

Kesuksesan ini salah satunya berada di lapangan PEP Donggi Matindok, upaya ini dapat mengurangi kebocoran sebesar 68,4 persen pada tahun 2025. Hal yang sama diterapkan di JOB Pertamina-Medco E&P Tomori, mengurangi emisi CH4 sekitar 30 persen pada tahun 2025. Sementara PT Badak NGL, sukses mengurangi emisi CH4 sebesar 38,7 persen pada tahun 2025. ***

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *