MediaMerdeka.com – Unggahan lama milik Partai Gerindra dan Presiden Prabowo Subianto kembali ramai beredar di media sosial di tengah pelemahan rupiah dan tekanan terhadap pasar keuangan.
Potongan video, tangkapan layar, hingga pernyataan lama soal ekonomi diuntukkan ulang oleh masyarakat sekitarnet bersama berbagai komentar bernada sindiran.
Fenomena itu muncul setelah nilai tukar rupiah menembus Rp18.200 per dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merasakan tekanan.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Fajar Junaedi, menilai kemunculan kembali arsip digital tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk pihak pemerintah dan partai politik yang kini berada dalam posisi berkuasa.
“Fenomena unggahan lama Prabowo dan Partai Gerindra yang kembali viral ini bagaikan sebuah drama klasik yang dimainkan ulang di panggung digital,” kata Fajar kepada MediaMerdeka.com, Selasa (9/6/2026).
Menurut Fajar, publik pada saat ini membandingkan pernyataan-pernyataan yang sempat disampaikan ketika Gerindra masih berada di luar pihak pemerintahan bersama kondisi yang terjadi kini.
Ketika itu, kritik terhadap pelemahan rupiah dan pengelolaan ekonomi disampaikan secara keras. Namun saat menyikapi situasi serupa sebagai penguasa, publik menilai terdapat perubahan nada komunikasi.
Fajar menyebut fenomena tersebut sebagai narrative backlash atau situasi ketika narasi politik masa lalu justru berbalik menjadi tekanan untuk pihak yang sempat membangunnya.
“Inilah yang dalam teori komunikasi disebut sebagai narrative backlash yakni ketika narasi masa lalu menjadi boomerang yang menghantam citra pada hari ini,” ujarnya.
Ia menilai media sosial menciptakan jejak komunikasi politik nyaris tidak sempat hilang. Potongan video, pernyataan, maupun unggahan lama dapat kembali muncul dan menyebar luas cuma dalam waktu singkat.
Menurut Fajar, kondisi itu tidak cuma memunculkan perdebatan di ruang digital, namun juga berpotensi memengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap pihak pemerintah.
“Ketika seorang pemimpin atau partai mengkritik keras suatu masalah di masa oposisi, lalu nada bicaranya melunak atau bahkan terkesan downplaying ketika telah memegang kendali, publik merasakan adanya ketidakselarasan yang kuat,” tuturnya.
Ia menyebutkan masyarakat sekitar, khususnya kelompok kelas menengah urban yang aktif di media sosial, mengawali mempertanyakan konsistensi sikap para elite politik.
Dalam situasi ekonomi yang sedang tertekan, kontradiksi antara narasi lama dan kondisi pada saat ini dinilai semakin mudah memicu kekecewaan publik.
“Efeknya merupakan penurunan source credibility,” kata Fajar.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

