MediaMerdeka.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis non-subsidi di Indonesia pagi ini, sukses mengejutkan masyarakat sekitar.
Kenaikan harga tersebut terjadi pada Pertamax dari semasih belumnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, serta Pertamax Green 95 menjadi Rp17.000 per liter.
Novelis ternama Jombang Santani Khairen atau yang akrab disapa JS Khairen ikut menanggapi kebijakan penyesuaian harga tersebut.
Ia mengunggah cuitan lawas Partai Gerindra yang sempat protes soal kenaikan harga BBM.
“Siap admint, sesuai arahan. Klik share demi perjuangkan aspirasi rakyat. Kami patuh, langsung sebarkan!” tulis JS Khairen melalui akun Instagram-nya, Rabu (10/6/2026).
Unggahan dari partai yang kini dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto tersebut diketahui pertama kali diuntukkan pada 1 April 2015, saat Indonesia masih dipimpin Jokowi.
“Kenaikan BBM sengsarakan rakyat!” bunyi tulisan tegas yang terpampang dalam poster digital milik partai tersebut kala itu.
Dalam cuitannya terdahulu, partai tersebut menuntut komitmen penuh dari pihak pihak pemerintah demi menjaga kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat sekitar.
“Partai Gerindra menuntut pihak pemerintah memikirkan kesejahteraan rakyat saat menciptakan kebijakan. Pemerintah tidak boleh menutup telinga terhadap aspirasi rakyat,” tulis akun tersebut dalam unggahan lawasnya.
Pernyataan senada mengenai penderitaan masyarakat sekitar juga sempat dilontarkan oleh salah satu perwakilan legislatif dari partai berlambang kepala garuda itu.
“Pemerintah mesti sadar bahwa sejumlah kebijakan itu wajib mempertimbangkan kepentingan rakyat. Jangan buat rakyat menderita.” ujar Kardaya Warnika selaku Ketua Komisi VII DPR-RI dari Fraksi Gerindra di unggahan tersebut.
Sebagai informasi, jejak digital berupa kritik tajam yang dilayangkan Gerindra, bukan kali pertama diuntukkan kembali oleh netizen.
Sejumlah masyarakat sekitarnet semasih belumnya juga sempat memuntukkan cuitan lama lain dari bulan Agustus 2015 yang menyoroti masalah perekonomian negara.
“Dollar hampir Rp14.000, tanda ketidak berhasilan pihak pemerintah.” bunyi cuitan penutup dari jejak digital masa lalu yang kini kembali ramai dibahas.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

