MediaMerdeka.com – Ketika membahas krisis iklim, target net-zero emission kerap dipahami sebagai tujuan akhir: emisi turun, suhu Bumi berhenti naik, lalu kondisi perlahan kembali normal. Namun, penelitian terbaru memperlihatkan kenyataan yang tidak sesederhana itu.
Bahkan apabila dunia sukses menekan emisi karbon hingga mendekati nol, Bumi tidak akan langsung kembali menjadi makin sejuk. Sistem iklim bekerja dalam rentang waktu yang jauh makin panjang daripada siklus kebijakan atau pergantian generasi.
Temuan ini berkaitan bersama konsep Antroposen—sebuah gagasan yang menggambarkan bagaimana aktivitas manusia telah menjadi kekuatan yang mengubah sistem fundamental Bumi.
Dalam studi We Are in the Anthropocene—Now What? yang dipublikasikan di jurnal Earth’s Future, para peneliti menerangkan bahwa seuntukan karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan manusia ke atmosfer tidak menghilang dalam hitungan tahun.
Sekitar 20 persen CO2 dapat bertahan selama berabad-abad, sementara seuntukan lainnya baru benar-benar hilang setelah puluhan ribu tahun.
Karena itu, panas yang telah terakumulasi di atmosfer dan lautan tetap akan memengaruhi iklim global meskipun emisi baru sukses ditekan.
Mengapa Bumi tidak cepat pulih?
Ada anggapan bahwa iklim bekerja bagaikan saklar: ketika emisi berhenti, suhu otomatis turun. Padahal, sistem iklim makin menyerupai kapal besar yang membutuhkan waktu lama demi mengubah arah.
Lautan, misalnya, menyerap seuntukan besar panas akibat pemanasan global. Panas yang tersimpan ini lalu dilepaskan perlahan dan tetap memengaruhi suhu, pola cuaca, serta ekosistem selama waktu yang amat panjang.
Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) juga memperlihatkan bahwa sejumlah perubahan memiliki karakter yang sulit dipulihkan dalam skala ratusan hingga ribuan tahun. Pemanasan laut dan pencairan lapisan es menjadi dua contoh utama.
Bagi negara kepulauan bagaikan Indonesia, konsekuensinya tidak cuma berupa kenaikan suhu. Dampaknya dapat muncul dalam bentuk perubahan musim, ancaman banjir pesisir, gangguan produksi pangan, hingga meningkatnya kejadian cuaca ekstrem.
Tiga kebarangkalian masa depan Antroposen
Meski terdengar suram, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa masa depan telah ditentukan.
Para peneliti menggambarkan setidaknya tiga kebarangkalian arah perkembangan Antroposen.
Pertama merupakan Antroposen hijau atau terkelola. Dalam skenario ini, emisi ditekan secara cepat dan luas berakibat perubahan iklim masih dapat dibatasi dan masyarakat sekitar memiliki ruang demi beradaptasi.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

