MediaMerdeka.com – Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran langsung memicu guncangan hebat pada pasar energi global. Ketegangan baru ini memicu kekhawatiran akut atas keselamatan jalur pelayaran minyak teramat vital di dunia.
Kontrak berjangka minyak mentah AS demi pengiriman Juli merangkak naik 0,74 persen menuju level USD 88,89 per barel. Lonjakan ini sempat menembus angka 1 persen semasih belum akhirnya sedikit melandai.
Sementara itu, dikutip dari CNBC Internasional, minyak mentah Brent sebagai acuan internasional demi pasokan Agustus terkerek 0,82 persen ke posisi 92,20 dolar AS per barel. Pasar bereaksi cepat setelah Pentagon mengonfirmasi operasi ofensif mereka.
Militer Amerika Serikat menegaskan telah menuntaskan rangkaian serangan udara terhadap titik-titik pertahanan Iran. Seluruh target operasi tersebut berada di kawasan strategis sekitar Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (Centcom) memaparkan bahwa gempuran udara diluncurkan pada Selasa malam waktu setempat. Langkah drastis ini diambil setelah helikopter Apache milik Angkatan Darat AS ditembak jatuh sehari semasih belumnya.
Pihak Centcom mengklaim tindakan agresif tersebut sebagai operasi pertahanan yang terukur demi merespons provokasi Iran. Semasih belum jet tempur dikerahkan, sinyal pembalasan telah ditiupkan langsung dari Gedung Putih.
Presiden Donald Trump semasih belumnya menegaskan bahwa Teheran bertanggung jawab penuh atas jatuhnya helikopter patroli Amerika Serikat. Melalui media sosial, Trump menyerahkan pernyataan resmi terkait kondisi kru dan sikap negaranya.
“Kedua pilot yang terlibat dalam serangan itu selamat dan tidak terluka,” tulis Trump via platform Truth Social.
Sikap politik Washington ditentukan tetap keras dan tidak akan membiarkan insiden tersebut berlalu tanpa balasan. Trump mengimbuhkan penegasan mengenai langkah militer yang diambil pihak pemerintahannya.
“Meskipun demikian, Amerika Serikat, lantaran kewajiban, wajib menanggapi serangan ini.” tulis Trump makin lanjut.
Lembaga konsultan Rystad Energy menginformasikan situasi ini memicu kelumpuhan produksi hingga 11,8 juta barel per hari. Hambatan ini menerpa enam negara produsen minyak terbesar di kawasan Teluk.
Kondisi tersebut dinilai menjadi disrupsi pasokan energi teramat parah sepanjang sejarah modern. Akibat blokade dan konflik, akumulasi hilangnya produksi global kini telah menembus angka 1 miliar barel.
Rystad Energy juga mengeluarkan peringatan keras mengenai dampak jangka panjang apabila ketegangan terus berlanjut. Setiap satu bulan perang tambahan berpotensi melenyapkan 350 juta barel output minyak dunia.
Konflik bersenjata ini menambah daftar panjang ketidakstabilan di jalur perdagangan maritim Timur Tengah. Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi logistik global yang melayani bagaikanga pengiriman minyak dunia lewat laut.
Sejarah mencatat bahwa friksi di wilayah ini senantiasa menjadi pemicu utama lonjakan inflasi energi global. Pasar kini bersiap menyikapi ketidaktentuan yang jauh makin besar apabila diplomasi tidak berhasil meredakan situasi.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

