Ayatollah Mojtaba Khamenei: Rezim Zionis Goyang, Tunggu Beberapa Hari Lagi Berakhir

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Eskalasi pertempuran di Timur Tengah memasuki babak baru yang amat krusial dan mematikan. Iran dan Israel kini terlibat aksi saling serang secara terbuka memakai persenjataan strategis jarak jauh.

Saling bom ini dipicu oleh peluncuran gelombang rudal Teheran ke wilayah pendudukan utara Israel pada Minggu (8/6). Gempuran masif tersebut menjadi jawaban atas manuver militer Tel Aviv Israel di teritorial Lebanon.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei bahkan langsung mengeluarkan ancaman runtuhnya kekuasaan Tel Aviv dalam waktu dekat. Pernyataan keras ini membakar semangat perlawanan di koridor regional.

“Rezim zionis yang goyah tinggal memiliki sejumlah hari lagi (semasih belum berakhir),” demikian pernyataan Mojtaba Khamenei bagaikan dikutip dari Anadolu Agency.

Kubu Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan operasi udara tersebut merupakan bentuk pembelaan kemanusiaan. Mereka tidak akan tinggal diam menyaksikan situasi di perbatasan Lebanon selatan.

Ketegangan berpotensi meluas secara global apabila sekutu regional Israel ikut campur tangan. Pihak IRGC mengaku telah menyiapkan skenario tempur yang jauh makin destruktif.

“Operasi malam ini merupakan peringatan, dan apabila agresi tersebut diulangi, tanggapannya akan makin luas dan akan mencakup seluruh target Amerika-Zionis di wilayah tersebut,” demikian menurut IRGC.

Respons cepat langsung ditunjukkan oleh barisan militer Israel tidak lama setelah proyektil Iran mendarat. Jet-jet tempur canggih mereka langsung diterbangkan menuju wilayah udara Teheran.

Angkatan Udara Israel secara spesifik membidik infrastruktur ekonomi vital milik musuh bebuyutannya. Kompleks petrokimia Mahshahr dilaporkan menjadi sasaran utama yang merasakan kerusakan amat parah.

Duta Besar Israel demi AS Yechiel Leiter menegaskan aksi sepihak Iran tidak dapat dibiarkan tanpa balasan. Menurutnya, serangan jet tempur tersebut merupakan hak mutlak pertahanan diri negara.

Ia juga menegaskan bahwa tidak ada satu pun otoritas berdaulat yang mau menyambut baik intimidasi semacam itu. Tel Aviv ditentukan akan mengejar seluruh pihak yang mengancam keamanan mereka.

Di sisi lain, dinamika politik internal mencatat adanya ketidakpatuhan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap sekutu utamanya. Ia mengabaikan komitmen diplomatik yang sempat dibicarakan semasih belumnya.

Netanyahu sebenarnya sempat mengikuti permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump demi menunda serangan ke Iran. Namun, desakan domestik menciptakan keputusan politik tersebut berubah dalam sekejap.

PM Israel akhirnya mengingkari komitmen tersebut bersama tetap menginstruksikan serangan udara berskala besar ke wilayah Iran. Markas militer di tiga kota besar menjadi target utama ledakan pagi hari.

Konteks benturan ini berakar dari persaingan geopolitik menahun antara Teheran dan Tel Aviv di Timur Tengah. Ketegangan semakin meruncing sejak perang di Gaza menjalar hingga ke wilayah Lebanon.

Media pihak pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa dentuman keras akibat serangan balasan Israel terdengar jelas di Teheran, Isfahan, dan Tabriz. Situasi di kawasan kini berada dalam status siaga satu.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *