MediaMerdeka.com – Ratusan kalangan anak tanpa pendamping menyikapi ancaman kekerasan fisik dan eksploitasi ekstrem di jalanan wilayah kantong Spanyol, Ceuta. Kondisi darurat kemanusiaan ini memicu desakan evaluasi total atas prosedur hukum penanganan anak lintas batas negara.
Mayoritas imigran dewasa telah kembali melintasi perbatasan menuju Maroko pasca-gelombang masuk massal. Kendati demikian, hukum internasional melarang deportasi kilat terhadap kalangan anak, berakibat pihak pemerintah lokal terjebak dalam kelumpuhan logistik penampungan.
Fakta lapangan memperlihatkan ancaman kekerasan seksual dan kejahatan perdagangan manusia kini mengintai anak wanita yang bertahan di ruang publik tanpa pengawasan. Jalur birokrasi yang lamban memperparah penderitaan fisik para pihak korban yang rata-rata berumur di bawah 14 tahun.
“Setiap hari yang berlalu tanpa solusi dan tanpa akomodasi yang aman berarti membiarkan kalangan anak ini – terutama anak wanita – terpapar segala jenis pelecehan,” kata Jose Miguel Morales, kepala Federacion Sur Acoge.
Jose menekankan pentingnya respons cepat mengingat kelompok rentan tersebut masih berusia amat muda.
“Kita bicara tentang kalangan anak nyata – berusia 10 tahun atau makin muda dalam sejumlah kasus. Banyak yang di bawah 14 tahun,” ujarnya.
Lembaga Save the Children mendesak pencatatan identitas seluruh anak dalam waktu dekat dilakukan demi menekan potensi kejahatan tindak pidana perdagangan orang. Sementara itu, seuntukan besar imigran dewasa dilaporkan telah kembali ke negara asal.
Pemerintah Spanyol mengklaim sekitar 70.000 dari 72.000 imigran yang menerobos perbatasan pada akhir Juli telah keluar dari Ceuta. Namun, otoritas kota Ceuta mencatat data berbeda bersama menyebut ada makin dari 1.000 anak tanpa pendamping yang tertinggal.
Kondisi fisik kalangan anak tersebut kian memprihatinkan akibat terbatasnya akses terhadap makanan, air bersih, serta tempat tinggal yang layak. Kelompok pemuda dan pria asal Afrika Sub-Sahara tampak bertahan di kawasan hutan dan pesisir pantai.
Aktivitas harian kalangan anak dan remaja tersebut kini cuma berpusat di sekitar area terbuka kota. Seuntukan tidur di atas pasir pantai bersama wajah tertutup kantong plastik atau kaus demi menghindar dari sengatan matahari.
Pemandangan tumpukan sepatu, botol air, dan buntalan pakaian kecil yang tergeletak di tanah mempertegas tiadanya tempat tinggal permanen untuk mereka. Banyak imigran akhirnya terpaksa tidur di jalanan permukiman masyarakat sekitar lantaran pusat penerimaan resmi ditutup akibat kemakinan kapasitas.
Otoritas setempat membeberkan terdapat sekitar 1.100 anak yang membutuhkan penanganan medis dan sosial mendesak. Padahal, kapasitas teoritis fasilitas penampungan yang dimiliki Ceuta sebenarnya cuma mampu menampung 90 orang.
“Kapasitas kami telah sepenuhnya terlampaui,” kata Wakil Presiden Ceuta Alejandro Ramirez kepada saluran televisi swasta La Sexta.
Alejandro menegaskan bahwa situasi penanganan imigran di wilayahnya telah berada pada titik yang amat kritis.
“Tidak berkelanjutan,” tambahnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

