2 Raksasa Maskapai Penerbangan Mulai Goyang karena Perang AS-Iran dan BBM Naik

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Konflik geopolitik di Timur Tengah melumpuhkan kinerja keuangan maskapai penerbangan Eropa hingga memicu pembengkakan kerugian operasional secara drastis pada semester pertama 2026. Tekanan hebat ini memaksa maskapai mengambil tindakan ekstrem bersama memangkas rute penerbangan domestik hingga menunda rencana ekspansi armada penerbangan jarak jauh.

Kenaikan harga bahan bakar jet dan pembatalan rute strategis menjadi beban utama penerbangan komersial internasional. Situasi ekonomi makin memburuk lantaran penyesuaian harga tiket tidak sebanding bersama lonjakan biaya operasional maskapai.

“Konflik yang berkaitan bersama Iran amat berdampak terhadap kami akibat lonjakan tajam biaya bahan bakar jet serta kewajiban membatalkan sejumlah rute. Kenaikan harga tiket cuma mampu mengimbangi seuntukan dari dampak finansial tersebut hingga Juni,” kata CEO Austrian Airlines Annette Mann.

Laporan resmi mencatat kerugian operasional Austrian Airlines melonjak sebesar 50 juta euro (Rp1 triliun) menjadi total 93 juta euro (Rp1,9 triliun) pada paruh pertama 2026 akibat krisis di Timur Tengah.

Pengeluaran bahan bakar meningkat makin dari 60 juta euro (Rp1,2 triliun) dibanding periode tahun lalu meskipun telah memakai strategi lindung nilai. Pembatalan penerbangan ke Amman, Erbil, Tel Aviv, dan Teheran turut menyumbang kerugian tambahan hingga puluhan juta euro.

Manajemen tetap berupaya menjaga rencana investasi jangka panjang sembari menekan pengeluaran operasional harian.

Mann mengimbuhkan bahwa pihak maskapai telah mengambil sejumlah langkah internal demi meminimalkan dampak ekonomi jangka pendek semaksimal barangkali, sembari tetap mempertahankan rencana investasi jangka panjang.

Efisiensi ketat dilakukan bersama menghentikan rute Wina–Graz mengawali jadwal musim dingin akibat rendahnya tingkat keterisian penerbangan selama beroperasinya jalur tersebut.

Langkah rasionalisasi berlanjut bersama penangguhan rute menuju Tbilisi, Keflavik, dan Porto demi mengurangi beban biaya maskapai. Jadwal menginap armada dan awak kapal di Klagenfurt, Kopenhagen, Warsawa, serta Krakow resmi dihapuskan dari agenda penerbangan.

Meskipun menyikapi krisis berat, pihak manajemen optimistis mampu mencatatkan kinerja keuangan positif di akhir tahun. Peningkatan efisiensi internal dan penyesuaian tarif penerbangan diharapkan menjadi penopang utama pemulihan operasional.

Sebagai untukan dari jaringan Lufthansa Group, kebijakan pemangkasan rute jarak pendek telah dijalankan sejak April lalu demi merespons melambungnya harga avtur.

Di sisi lain, Brussels Airlines menginformasikan kerugian EBIT yang disesuaikan mencapai 70 juta euro (sekitar Rp1,5 triliun) demi paruh pertama 2026.

Tiga faktor utama pendorong penurunan kinerja keuangan maskapai Belgia tersebut meliputi harga bahan bakar yang melambung, aksi mogok kerja, serta penyebaran wabah Ebola di Afrika Timur.

Penurunan profitabilitas sebesar 50 persen terjadi di tengah peningkatan jumlah penumpang dan pendapatan penerbangan. Maskapai mencatat keterangkutan 4,5 juta penumpang dalam 34.200 penerbangan atau tumbuh masing-masing 8,1 persen dan 5,5 persen.

Pembengkakan biaya bahan bakar Brussels Airlines tercatat menyentuh angka 64 juta euro (sekitar Rp1,3 triliun) imbas gejolak harga minyak dunia.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *