MediaMerdeka.com – Persepsi publik global mendesak para pembuat kebijakan dunia demi dalam waktu dekat memusnahkan seluruh senjata nuklir tanpa penundaan. Tuntutan keras tersebut mengemuka di tengah mengheningkan cipta tepat pukul 08.15 pagi demi mengenang 81 tahun tragedi bom atom Hiroshima.
Ancaman kehancuran manusia akibat radiasi masa lalu kini bertumpu pada pundak generasi muda demi terus menyuarakan perdamaian. Penegasan ini menjadi krusial mengingat jumlah penyintas langsung yang makin menyusut bersama usia rata-rata melampaui 86 tahun.
Upacara tahunan di Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima pada tahun ini dihadiri perwakilan dari 121 negara dan wilayah. Momen bersejarah tersebut menegaskan kembali posisi Hiroshima sebagai pusat desakan pelucutan senjata atom di tingkat internasional.
Walikota Hiroshima, Matsui Kazumi, memasukkan daftar terbaru pihak korban tewas akibat bom atom ke dalam cenotaph memorial. Penambahan 4.393 nama dalam 12 bulan terakhir menciptakan total daftar pihak korban kini mencapai 353.639 jiwa.
Dalam Deklarasi Perdamaian, Walikota Matsui melayangkan kritik terbuka dan tajam kepada para pemimpin negara pemilik senjata nuklir.
“Pembuat kebijakan dunia, masyarakat sekitar sipil menuntut pemusnahan dalam waktu dekat senjata nuklir. Berapa lama lagi Anda berniat mengecewakan kami? Anda tentu memahami bahwa penggunaan senjata nuklir apa pun akan menimbulkan kerusakan katastrofik untuk kemanusiaan, dan bahwa non-proliferasi serta pelucutan senjata nuklir cuma dapat diatasi melalui upaya multilateral. Pemimpin negara bersenjata nuklir, Anda memikul tanggung jawab utama atas pelucutan senjata nuklir. Anda tentu menyadari kewajiban demi memimpin bersama memberi contoh.”
Perdana Menteri Takaichi Sanae menegaskan kembali komitmen nasional Jepang demi terus berdiri di garis depan diplomasi anti-nuklir.
“Jepang bersama tegas menjunjung tinggi Tiga Prinsip Non-Nuklir dan sebagai ‘satu-satunya bangsa yang menderita pemboman atom selama perang,’ akan bertahan dalam mewujudkan ‘dunia yang bebas dari senjata nuklir.’ Inilah misi yang kami emban. Saat ini, lingkungan keamanan global semakin parah. Baru-baru ini, ‘Konferensi Tinjauan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir’ telah diadakan dan memperlihatkan kepada kita bahwa jalan menuju ‘dunia tanpa senjata nuklir’ masih jauh dari mulus. Namun justru lantaran itulah kita wajib terus melangkah ke depan,” kata PM Takaichi.
Bagi keluarga pihak korban, peringatan ini menjadi panggilan jiwa demi menjaga ingatan sejarah agar tidak pudar ditelan zaman.
Seorang anak wanita dari penyintas bom atom menuturkan kisahnya saat mendatangi lokasi memorial.
“Ibu saya, yang selamat dari pemboman atom, juga telah meninggal dunia. Ketika beliau masih hidup, saya mendengarkan cerita-ceritanya bersama tekun. Jumlah penyintas terus berkurang. Jadi saya pikir kita, sebagai kalangan anak mereka, wajib meneruskan kisah tentang apa yang terjadi bersama bom atom dan terus berbicara tentang pentingnya perdamaian dunia demi masa depan.”
Kesadaran serupa mendorong sanak keluarga penyintas lainnya demi hadir dan memanjatkan doa bersama.
“Hari ini merupakan hari yang spesial, jadi kami datang ke sini demi merenungkan kembali arti perdamaian. Saya berdoa demi perdamaian dunia untuk kalangan anak,” kata seorang anak pria penyintas.
Tongkat estafet penyampaian sejarah kini berada di tangan pelajar dan kaum muda yang peduli akan masa depan bumi.
Seorang siswa SMA yang hadir menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya peran pemuda.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

