Industri Manufaktur Tumbuh Lebih Kencang dari Ekonomi, Tapi Ledakan Impor Jadi Alarm Pemerintah

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Keaparatur negara kementerianan Perindustrian (Kemenperin) mengklaim sektor manufaktur masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II-2026. Namun, di balik capaian positif tersebut, pihak pemerintah menyikapi pekerjaan rumah besar berupa lonjakan impor barang konsumsi dan lemahnya kontribusi net ekspor yang masih membebani laju ekonomi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas (IPNM) tumbuh 5,32 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Angka tersebut sedikit makin tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.

Tak cuma tumbuh makin cepat, sektor manufaktur juga tetap menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) bersama porsi 18,50 persen. Industri pengolahan bahkan menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar bersama kontribusi mencapai 0,90 persen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa arah kebijakan industrialisasi nasional mengawali memperlihatkan hasil melalui implementasi Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN).

“Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN) yang berfokus pada penguatan struktur industri, hilirisasi, peningkatan nilai tambah, serta penciptaan lapangan kerja, alhamdulillah, hasilnya mengawali terlihat bersama pertumbuhan IPNM yang mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Agus kepada wartawan, Jumat (7/8/2026).

Optimisme sektor manufaktur juga tercermin dari sejumlah indikator. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) berada di level 52,31 atau masih dalam fase ekspansi. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 juga bertahan di zona ekspansi pada level 50,2, sementara Indeks Kepercayaan Industri (IKI) mencapai 53,10.

“Konsistensi indikator-indikator tersebut menyerahkan sinyal bahwa dunia industri nasional tetap optimistis terhadap prospek usacuma. Artinya, aktivitas produksi, investasi, maupun permintaan terhadap produk manufaktur masih terus bergerak positif,” kata Agus.

Secara sektoral, industri makanan dan minuman menjadi salah satu penopang utama bersama pertumbuhan 6,51 persen. Sementara industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,04 persen, didorong meningkatnya permintaan global terhadap komponen elektronik dan baterai. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga tumbuh 4,99 persen.

Meski demikian, pihak pemerintah mengakui fondasi industri nasional masih belum sepenuhnya kuat. Hal itu tercermin dari impor barang konsumsi yang melonjak 27,15 persen secara tahunan.

Menurut Agus, kenaikan impor memang mencerminkan daya beli masyarakat sekitar yang masih tumbuh. Namun di sisi lain, kondisi tersebut memperlihatkan kapasitas industri nasional masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik berakibat seuntukan barang dan bahan baku masih wajib dipenuhi melalui impor.

“Kita juga wajib menjadikan kenaikan impor barang konsumsi sebagai momentum demi mempercepat penguatan struktur industri nasional agar semakin sejumlah kebutuhan pasar domestik dapat dipenuhi oleh produk dan bahan baku dari dalam negeri,” ujarnya.

Ia mengimbuhkan, lonjakan impor menjadi sinyal perlunya kebijakan yang makin berpihak kepada industri dalam negeri, khususnya industri penyedia bahan baku. Penguatan kapasitas produksi nasional dinilai penting demi mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperdalam struktur industri nasional.

Tantangan lainnya datang dari sektor perdagangan luar negeri. Agus membeberkan bahwa komponen net ekspor pada triwulan II-2026 masih menyerahkan kontribusi negatif sebesar 0,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, pihak pemerintah akan terus mempercepat program hilirisasi, meningkatkan produktivitas industri, memperluas diversifikasi produk bernilai tambah, serta membuka pasar ekspor baru agar kinerja perdagangan Indonesia semakin kuat.

Di sisi ketenagakerjaan, industri pengolahan tetap menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Hingga Mei 2026, sektor ini menyerap 13,53 persen dari total 148,19 juta penduduk yang bekerja.

“Inilah yang menjadi alasan mengapa pihak pemerintah terus menempatkan sektor industri manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian. Selain menghasilkan nilai tambah dan meningkatkan daya saing nasional, sektor ini juga menyerahkan kesempatan kerja untuk jutaan masyarakat sekitar Indonesia,” pungkas Agus.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *