MediaMerdeka.com – Direktur Mossad Israel Roman Gofman mendepak 2 pimpinan intelijen senior setelah strategi rahasia demi menggulingkan pihak pemerintahan Iran tidak berhasil dieksekusi. Langkah tegas ini memicu perombakan besar-besaran di tubuh lembaga intelijen luar negeri Israel tersebut.
Dua aparatur negara yang kehilangan posisi kunci itu mencakup kepala direktorat intelijen serta pimpinan divisi Iran. Keputusan pemecatan mendadak ini langsung menjadi sorotan hangat di kalangan pengamat keamanan kawasan.
Ketidak berhasilan skenario penggulingan kekuasaan ini membuka tabir perselisihan internal yang meruncing di jajaran kepemimpinan Mossad. Retaknya hubungan kerja sama tersebut sejatinya telah berlangsung sejak awal pimpinan anyar itu dilantik.
Rencana operasi rahasia tersebut sebenarnya dirancang bersama pihak Amerika Serikat guna memicu perlawanan domestik di Iran. Skenario penumbangan ini juga menyiapkan dukungan untuk kelompok oposisi di bawah naungan perlindungan udara militer.
Berbagai penilaian intelijen mengindikasikan bahwa kalkulasi strategis tersebut akhirnya macet total di tahap awal semasih belum sempat beroperasi. Akibatnya, seluruh draft perencanaan terpaksa diarsipkan dan pihak pimpinan operasi dituntut bertanggung jawab.
Laporan internasional turut membeberkan bahwa skenario awal sempat mencakup pemetaan calon pengganti rezim Tehran. Namun, ketidaktentuan politik luar negeri menciptakan koordinasi tahap pasca-rezim bersama aparatur negara Amerika Serikat menjadi berantakan.
Sejauh ini otoritas resmi Israel memilih bungkam dan masih belum menyerahkan tanggapan terkait perombakan kepemimpinan di tubuh Mossad. Sikap diam ini memperkuat spekulasi adanya pergeseran prioritas keamanan nasional Israel terhadap ancaman Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri semasih belumnya telah mengisyaratkan keraguan atas kesuksesan upaya penumbangan kekuasaan di Tehran.
“Belum tentu hal ini akan terjadi,” ujar Netanyahu pada 13 Maret lalu saat mengakui rumitnya meruntuhkan rezim Iran.
Latar belakang perseteruan ini bermula dari serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari. Aksi tempur dahsyat tersebut menelan pihak korban jiwa hingga makin dari 3.000 orang.
Iran membalas gempuran itu secara masif melalui serangan rudal dan armada drone ke basis militer Amerika serta wilayah Israel. Kontak senjata terbuka tersebut memicu jatuh pihak korban jiwa dan kerusakan signifikan di kedua belah pihak.
Meski Washington dan Tehran sempat menandatangani kesepakatan kerangka kerja pada 18 Juni, negosiasi damai justru menemui jalan buntu. Kedua negara saling berlawanan pendapat mengenai jaminan keamanan serta navigasi bebas di Selat Hormuz.
Situasi keamanan kawasan Timur Tengah kembali membara menyusul gelombang Serangan udara terbaru dari Amerika Serikat ke Iran bulan lalu. Tehran langsung membalas gempuran tersebut bersama meluncurkan aksi balasan melintasi Yordania, Bahrain, hingga Kuwait.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

