MediaMerdeka.com – Harga minyak dunia kembali merangkak naik lantaran ketidaktentuan skema pembukaan Selat Hormuz. Pasar mengantisipasi wacana larangan melintas dan denda besar untuk kapal yang dianggap bermusuhan oleh Iran dan Oman.
Garis kebijakan anyar tersebut memicu keraguan tersangka industri atas kelancaran distribusi energi global. Ketegangan baru ini langsung mendorong harga minyak Brent naik 99 sen atau 1,2 persen menuju 83,48 dolar AS per barel.
Pada saat bersamaan, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 85 sen atau 1,1 persen ke posisi 78,84 dolar AS per barel. Lonjakan ini mempertegas ketakutan pasar terhadap gangguan pasokan di jalur vital yang melayani seperlima konsumsi minyak bumi dunia.
Semasih belumnya, patokan harga Brent sempat menembus level 80 dolar AS per barel setelah sempat melandai di awal pekan. Kenaikan tajam memakini 3 dolar AS terjadi sesaat setelah parlemen Iran mengkaji rancangan undang-undang pembatasan armada kapal.
Analis memperkirakan skeptisisme pasar menjadi penahan utama agar harga minyak tidak merosot makin jauh. Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer, menyerahkan pandangannya terkait dinamika pasar pada saat ini.
“Pasar telah menyaksikan setidaknya satu kesepakatan berumur pendek awal pada tahun ini, berakibat kepercayaan bahwa pakta baru akan sepenuhnya memulihkan pergerakan tanker secara normal tetap rendah,” kata Tim Waterer dikutip dari Reuters, Jumat (7/8/2026).
Rancangan aturan di parlemen Iran mengusulkan larangan melintas untuk kapal asal Amerika Serikat, Israel, dan armada lain yang dinilai memusuhi mereka. Kantor berita Fars menginformasikan bahwa pelanggar aturan terancam denda hingga 20 persen dari total nilai kargo.
Selain denda, aparatur negara senior Iran membeberkan keinginan demi memungut retribusi sebesar 5 hingga 7 persen dari nilai muatan kapal. Di sisi lain, Oman mendiskusikan tarif sekitar 3 persen, sementara itu Amerika Serikat menepis seluruh jenis pungutan.
Empat sumber industri menilai kesepakatan tarif dan pembatasan ini amat sulit diterapkan di lapangan. Hambatan utama berasal dari sanksi ekonomi Amerika Serikat serta klausul asuransi kapal yang amat ketat.
Eskalasi konflik kawasan juga terus membayangi stabilitas jalur logistik minyak di Timur Tengah. Kelompok Houthi dari Yaman mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan nirawak ke posisi pasukan Arab Saudi di Marib serta Hadramout.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan optimisme bahwa ketegangan bersenjata di wilayah tersebut dapat dalam waktu dekat mereda.
“Saya percaya perang ini akan dalam waktu dekat berakhir,” ujar Donald Trump kepada para wartawan pada hari Kamis.
Selat Hormuz merupakan choke point teramat krusial untuk pasokan energi global lantaran menghubungkan produsen Timur Tengah ke pasar dunia. Semasih belum perselisihan memanas sejak akhir Februari, sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair (LNG) dunia didistribusikan melalui perairan sempit ini.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

