MediaMerdeka.com – Setiap tahun, jutaan ton plastik masuk ke laut. Selama ini, diskusi publik kerap berfokus pada sedotan atau kantong plastik. Namun, penelitian global terbaru memperlihatkan sumber terbesar masalah ini barangkali jauh makin dekat bersama keseharian: kemasan makanan dan minuman.
Studi berjudul Food and beverage plastics dominate global shorelines: A harmonized rank-based assessment of usage types to guide interventions yang dipublikasikan oleh peneliti internasional menganalisis makin dari 5.300 survei sampah pesisir di 112 negara, mewakili sekitar 86 persen populasi dunia, demi mencari tahu jenis sampah apa yang teramat kerap ditemukan di garis pantai.
Hasilnya memperlihatkan pola yang konsisten di hampir seluruh dunia: plastik dari sektor makanan dan minuman menjadi jenis sampah teramat dominan.
Kemasan makanan, tutup botol, dan botol plastik tercatat sebagai tiga jenis sampah yang teramat kerap muncul di sejumlah negara. Secara agregat, plastik makanan dan minuman masuk tiga besar sumber pencemar di 93 persen negara yang diteliti. Temuan ini memperlihatkan bahwa masalah polusi plastik bukan cuma soal pengelolaan sampah setelah dibuang, namun juga berkaitan bersama bagaimana produk diproduksi dan dikonsumsi.
Penelitian tersebut juga menemukan kantong plastik berada di posisi berikutnya dan menjadi salah satu jenis sampah dominan di 39 persen negara, disusul puntung rokok sebesar 38 persen, serta perlengkapan perikanan dan pelayaran sebesar 34 persen.
Yang menarik, pola ini relatif seragam meski ditemukan variasi antarwilayah. Di kawasan Asia, misalnya, kantong plastik tetap menjadi salah satu pencemar yang menonjol. Sementara di wilayah kutub, sampah yang sejumlah ditemukan justru terkait aktivitas pelayaran dan perikanan. Meski berbeda-beda, sektor makanan dan minuman tetap muncul sebagai kontributor utama hampir di seluruh kawasan.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa krisis plastik tidak dapat diberakhirkan cuma bersama memperbaiki sistem pengelolaan sampah di hilir. Peneliti menilai intervensi perlu dimengawali dari hulu: mengurangi produksi plastik sekali pakai, mendesain ulang kemasan, hingga mendorong penggunaan ulang.
Pendekatan ini juga dinilai relevan demi pembahasan perjanjian plastik global yang pada saat ini terus didorong di tingkat internasional. Dengan mengetahui produk mana yang teramat sejumlah bocor ke lingkungan, kebijakan dapat dibuat makin spesifik dan tidak lagi memakai pendekatan “seluruh plastik merupakan masalah yang sama”.
Bagi Indonesia—yang termasuk lima negara bersama populasi terbesar dan masuk dalam cakupan studi—temuan ini menjadi pengingat bahwa kebiasaan konsumsi sehari-hari memiliki kaitan langsung bersama kondisi laut. Artinya, pengurangan sampah plastik barangkali perlu dimengawali bukan dari pantai, melainkan dari apa yang kita beli, konsumsi, dan buang setiap hari.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

