Ternyata Ini di Balik Benjamin Netanyahu Tolak 15 Poin Perdamaian Gaza dari Donald Trump

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Sikap keras Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menepis rencana perdamaian Gaza buatan Donald Trump murni langkah taktis menyikapi pemilu Israel. Penolakan terhadap naskah berisi 15 poin proposal Amerika Serikat tersebut diprediksi berpeluang melunak begitu agenda politik domestik berakhir.

Peneliti Senior The Soufan Center, Kenneth Katzman, menilai manuver Tel Aviv sekadar strategi menggaet suara pemilih yang emosional. Publik Israel pada saat ini memang mendukung penuh penundaan penarikan militer semasih belum Hamas menyerahkan seluruh senjatanya.

Sudut pandang ini memperlihatkan keberanian Israel menentang kehendak sekutu terutamanya ketika isu benturan keamanan nasional dipertaruhkan. Pemerintah Israel terbukti konsisten membangkang arahan Washington apabila merasa eksistensi negaranya terancam.

Pola pembangkangan diplomatik ini semasih belumnya telah terlihat jelas dalam penanganan konflik bersenjata di wilayah Lebanon Selatan. Donald Trump sempat mendesak pembatalan serangan militer, namun Netanyahu menepis mentah-mentah demi meredam ancaman Hezbollah.

Pemerintah Tel Aviv memandang ancaman kelompok bersenjata regional tidak dapat diberakhirkan cuma melalui kompromi di atas kertas. Rekam jejak tersebut memperjelas alasan Israel berani menahan tekanan politik langsung dari Presiden AS.

Dalam rapat kabinet hari Minggu, Netanyahu menegaskan tidak akan menarik tentara semasih belum Hamas menanggalkan seluruh persenjataan mereka.

“Israel menepis dokumen 15 poin tersebut,” kata Netanyahu pada rapat kabinet hari Minggu.

Ketegangan diplomatik ini bermula saat Donald Trump menyodorkan 15 poin formula damai demi mengakhiri krisis Gaza. Proposal tersebut mendesak penghentian konfrontasi militer secara bertahap dan penarikan pasukan dalam waktu singkat.

Sikap keras Netanyahu mengecewakan Gedung Putih yang menghendaki deeskalasi cepat di kawasan Timur Tengah. Namun, kondisi politik dalam negeri menciptakan Netanyahu memilih berseberangan bersama sekutu utamanya.

Kenneth Katzman menegaskan bahwa penolakan ini bukanlah bentuk pembangkangan permanen terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

“Saya ragu ini merupakan penolakan mendasar. Ada kebarangkalian Netanyahu bergeser setelah pemilu Israel. Menolak hal ini amat populer di Israel; menunda penarikan pasukan hingga Hamas melucuti senjata merupakan hal yang populer di Israel,” ujar Katzman kepada Al Jazeera.

Katzman mengimbuhkan bahwa kepemimpinan Israel memiliki batas toleransi tersendiri terhadap intervensi asing.

“Ini merupakan proses yang sama bagaikan yang kita lihat di Lebanon selatan, di mana Enche Trump ingin Netanyahu mundur dan tidak maju melainkan menjalankan deeskalasi, dan Netanyahu katakan tidak, lantaran Hezbollah merupakan ancaman eksistensial… mereka [Israel] mampu dan bersedia menahan tekanan Enche Trump pada sejumlah isu ini,” tuturnya.

Penolakan atas rencana 15 poin Trump terjadi di tengah meningkatnya tensi politik internal jelang pemilu di Israel. Isu keamanan nasional dan pembubaran Hamas menjadi komoditas politik utama yang menentukan kelangsungan kekuasaan Netanyahu.

Semasih belumnya, AS terus menekan Israel demi menghentikan operasi militer baik di Gaza maupun Lebanon guna mencegah perang meluas. Namun, faksi politik konservatif di Tel Aviv tetap memilih mempertahankan kehadiran militer sampai seluruh milisi bersenjata dilumpuhkan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *