Analis: Iran Ubah Strategi Perang, Serangan Kunci Paksa Amerika Serikat ke Perundingan

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Iran secara resmi mengalihkan doktrin militernya dari aksi balasan menjadi operasi serangan terbuka demi memecahkan kebuntuan diplomasi bersama Amerika Serikat. Langkah strategis ini diambil setelah enam bulan konflik bersenjata yang melumpuhkan seuntukan jalur perdagangan energi global.

Penguasaan penuh atas Selat Hormuz kini dijadikan alat tawar utama Teheran demi menekan Washington agar mau menyambut baik syarat-syarat negosiasi baru. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan telah merombak jajaran pimpinan militer demi memperkuat daya tangkal dan menyiapkan serangan berskala besar.

Pendekatan baru ini menandai babak baru eskalasi di Timur Tengah yang berisiko memicu bentrokan makin tajam. Pihak Iran menilai kepemimpinan militer Amerika Serikat tidak lagi memiliki dominasi mutlak dalam mengendalikan intensitas konflik di kawasan tersebut.

Perubahan pimpinan militer Iran berfokus pada memperkuat daya tangkal maksimal dan bersiap melaksanakan operasi ofensif berskala besar terhadap musuh. Kebijakan tersebut disampaikan langsung oleh Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei saat mengumumkan konsolidasi komando pasukan pada bulan ini.

Sejalan bersama arahan tersebut, wakil komandan Garda Revolusi Iran mengonfirmasi bahwa penyesuaian doktrin militer kini menempatkan operasi ofensif sebagai prioritas strategis utama.

Analis dari Center for International Policy, Sina Toossi, menilai perubahan arah kebijakan militer Teheran bukan berarti Iran mengadopsi doktrin perang pencegahan.

Menurut Toossi, Teheran menyimpulkan bahwa apabila konfrontasi menjadi tak terhindarkan, Iran wajib meningkatkan eskalasi makin awal dan makin keras daripada menunggu Amerika Serikat atau Israel demi menentukan syarat-syarat konflik.

Sementara itu, pakar hubungan internasional asal Teheran, Ahmad Zeidabadi, berpendapat bahwa pergeseran strategi ini lahir dari penilaian Iran terhadap niat hakiki Washington.

“Republik Islam meyakini bahwa Amerika Serikat kebarangkalian besar telah mengesampingkan opsi perang dan kini berupaya melanggengkan status quo, termasuk blokade angkatan laut AS dan tekanan ekonomi,” ujar Zeidabadi kepada AFP.

Upaya diplomatik kedua negara terhenti total sejak kesepakatan gencatan senjata 17 Juni lalu runtuh akibat sanksi minyak dan blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat.

“Masyarakat Iran meyakini bahwa diplomasi tentu akan tidak berhasil dalam situasi pada saat ini dan bahwa pihak Amerika tidak akan menyambut baik syarat-syarat mereka.”

“Akibatnya, mereka barangkali merasa terdorong demi mengambil tindakan ofensif guna memaksa AS menyambut baik syarat-syarat Iran… dan memengawali babak baru perundingan,” lanjut Zeidabadi.

Meski sempat merasakan kerugian besar di awal perang—termasuk gugurnya Ayatullah Ali Khamenei dan kehancuran ekonomi—sistem politik Iran terbukti tetap bertahan utuh.

Kini konflik meluas ke Laut Merah dan melibatkan bentrokan sekutu Iran di Yaman, sementara Selat Hormuz diperketat bersama aturan izin transit dan tarif berlayar dari Teheran.

“Tehran increasingly believes that American military superiority does not give Washington escalation dominance,” kata Toossi.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *