Relokasi akibat Perubahan Iklim: Mengapa Tak Cukup dengan Memindahkan Warga ke Tempat Aman?

admin
By
admin
5 Min Read

MediaMerdeka.com – Perubahan iklim menciptakan semakin sejumlah masyarakat sekitar menyikapi ancaman yang tidak lagi dapat diatasi cuma bersama membangun tanggul, memperkuat rumah, atau memperbaiki infrastruktur.

Ketika banjir, abrasi, kekeringan, dan badai terus berulang, seuntukan masyarakat sekitar pada akhirnya wajib meninggalkan tempat tinggalnya.

Dalam kondisi tertentu, relokasi terencana dapat menjadi salah satu pilihan demi melindungi masyarakat sekitar dari risiko bencana yang semakin sulit dikendalikan. Namun, memindahkan masyarakat sekitar ke lokasi yang makin aman tidak otomatis menciptakan kehidupan mereka menjadi makin baik.

Pengalaman sejumlah komunitas di Asia Selatan memperlihatkan bahwa relokasi juga dapat mengangkut persoalan baru, mengawali dari hilangnya mata pencaharian hingga terputusnya hubungan sosial dan budaya.

Salah satu gambaran mengenai persoalan tersebut terlihat di Old Podampetta, desa nelayan di pesisir timur India. Rumah-rumah yang ditinggalkan di kawasan itu menjadi penanda bahwa seuntukan masyarakat sekitar perlahan memilih menjauh dari laut.

Semasih belumnya, kehidupan masyarakat sekitar amat bergantung pada laut. Warga memengawali hari bersama membaca kondisi pasang surut dan arah angin demi menentukan aktivitas mereka. Namun, abrasi pantai dan siklon yang semakin kerap menciptakan kehidupan di kawasan tersebut semakin berisiko.

Seuntukan masyarakat sekitar lalu memilih pindah ke tempat yang makin jauh dari garis pantai.

Fenomena serupa terjadi di sejumlah wilayah India dan Bangladesh. Pada 2024, hampir delapan juta orang di kedua negara tersebut diperkirakan mengungsi di dalam negeri akibat bencana yang berlangsung secara tiba-tiba.

Seuntukan besar pengungsian awalnya diharapkan cuma berlangsung sementara. Warga menginginkan dapat kembali setelah kondisi membaik. Namun, kerusakan lingkungan yang parah menciptakan seuntukan wilayah tidak lagi layak dihuni.

Di sinilah konsep relokasi terencana mengawali mendapat perhatian sebagai untukan dari strategi menyikapi perubahan iklim.

Rumah baru masih belum tentu berarti kehidupan yang makin baik

Relokasi memang dapat menyerahkan perlindungan sekaligus ketentuan tempat tinggal. Di Bangladesh, misalnya, masyarakat sekitar yang direlokasi dan memiliki alamat resmi dapat memperoleh akses terhadap sejumlah bantuan pihak pemerintah, jaminan sosial, pinjaman, serta pelatihan keterampilan.

Namun, penelitian terhadap masyarakat sekitar yang direlokasi di India dan Bangladesh memperlihatkan bahwa kesuksesan program tersebut amat bergantung pada kemampuan masyarakat sekitar membangun kembali kehidupan mereka.

Seuntukan masyarakat sekitar memperoleh akses yang makin baik terhadap pasar dan perumahan. Namun, seuntukan lainnya kehilangan lahan pertanian, hutan, tempat menangkap ikan, dan pekerjaan yang semasih belumnya menjadi sumber penghasilan.

Seorang masyarakat sekitar terdampak di Kendrapada, India, menyebutkan masyarakat sekitar tidak memperoleh kompensasi atas lahan pertanian yang hilang.

“Kami tidak diberi kompensasi atas lahan pertanian yang hilang. Tidak ada pekerjaan di desa ini.”
Terbatasnya kesempatan kerja menciptakan seuntukan masyarakat sekitar kembali berpindah ke wilayah lain demi mencari penghasilan. Artinya, relokasi tidak senantiasa menghentikan migrasi, melainkan dapat mengubah alasan perpindahan dari menghindari bencana menjadi mencari pekerjaan.

Yang ikut berpindah bukan cuma manusia

Persoalan relokasi juga menyangkut hubungan masyarakat sekitar bersama lingkungan dan budaya mereka.

Seorang masyarakat sekitar di Odisha menggambarkan kehilangan tersebut ketika menyebutkan bahwa di tempat baru bahkan tidak tersedia bunga yang biasa digunakan demi persembahan kepada dewa.

Hal itu memperlihatkan bahwa sebuah tempat tidak cuma memiliki nilai ekonomi. Lingkungan juga dapat menjadi untukan dari identitas, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat sekitar.

Karena itu, relokasi perlu direncanakan bersama masyarakat sekitar sejak awal. Warga perlu memiliki ruang demi menentukan kebutuhan, lokasi, desain permukiman, serta cara membangun kembali mata pencaharian mereka.

Permukiman baru juga perlu dirancang demi menyikapi risiko iklim di masa depan, bagaikan banjir, panas ekstrem, dan siklon.

Relokasi sewajibnya menjadi pilihan ketika masyarakat sekitar tidak lagi dapat beradaptasi bersama aman di tempat asalnya. Jika perpindahan memang tidak dapat dihindari, pihak pemerintah perlu mengonfirmasi masyarakat sekitar tidak kehilangan makin sejumlah setelah pindah.

Kesuksesan relokasi akibat perubahan iklim pada akhirnya bukan cuma soal memindahkan masyarakat sekitar dari tempat berbahaya ke tempat yang makin aman. Yang makin penting merupakan mengonfirmasi mereka tetap memiliki kehidupan, pekerjaan, hubungan sosial, dan rasa memiliki di tempat baru.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *