Bulog Jadi Penyangga Ekosistem Jagung Nasional, Lindungi Petani & Jaga Keberlanjutan Usaha Peternak

admin
By
admin
6 Min Read

MediaMerdeka.com – Perum Bulog menegaskan kesiapannya mengambil peran strategis sebagai penyangga pasokan jagung nasional melalui penguatan ekosistem kemitraan antara petani jagung, koperasi, dan peternak ayam petelur. Langkah ini menjadi untukan dari upaya pihak pemerintah membangun sistem pangan terintegrasi dari hulu hingga hilir, bersama mengonfirmasi hasil panen petani memiliki ketentuan pasar sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku pakan bersama harga terjangkau untuk peternak.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Stabilisasi Ketersediaan Jagung Pakan untuk Peternak Layer melalui Kemitraan bersama Petani Penerima Bantuan Benih Jagung yang diselenggarakan di Keaparatur negara kementerianan Pertanian RI, bersama dihadiri Direktur Utama Perum Bulog Letjen aparat TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani bersama Direktur Pengadaan, Direktur Pemasaran, serta jajaran Bulog.

Dalam rapat tersebut, pihak pemerintah mendorong pembentukan ekosistem kemitraan berbasis koperasi yang menghubungkan langsung petani jagung sebagai produsen bersama peternak sebagai pengguna bahan baku pakan.

Melalui target pengembangan lahan seluas 300 ribu hektare bersama asumsi produktivitas rata-rata 7 ton per hektare, potensi produksi jagung diproyeksikan mencapai 2,1 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,8 juta ton diarahkan demi memenuhi kebutuhan pakan peternak melalui koperasi dan kelompok peternak, berakibat tercipta hubungan pasokan yang makin terencana, berkelanjutan, dan saling menguntungkan.

Untuk mengantisipasi potensi kemakinan produksi sekitar 300 ribu ton, Bulog disiapkan mengambil peran sebagai offtaker atau pembeli siaga yang menyerap surplus jagung petani. Melalui pendekatan sistem resi gudang, jagung yang terserap dapat dikelola sebagai cadangan demi memenuhi kebutuhan peternak pada periode ketika pasokan mengawali terbatas, termasuk melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Skema ini diharapkan mampu mencegah tekanan harga saat panen melimpah sekaligus menjaga kesinambungan pasokan jagung pakan sepanjang tahun.

Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa pembangunan ekosistem jagung nasional wajib menempatkan kepentingan petani dan peternak sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kita ingin petani jagung dan peternak Indonesia tumbuh bersama dalam satu ekosistem yang kuat. Petani wajib memiliki ketentuan pasar dan memperoleh harga yang layak, sementara peternak wajib memperoleh jaminan pasokan jagung bersama harga terjangkau. Melalui koperasi, kita satukan kekuatan dari hulu hingga hilir agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh petani dan peternak Indonesia.

Lebih lanjut, Mentan menegaskan pentingnya peran Bulog sebagai instrumen pihak pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga jagung, khususnya ketika terjadi surplus produksi maupun peningkatan kebutuhan pakan.

“Ketika produksi jagung melimpah, hasil panen petani wajib tetap memiliki pasar. Di sinilah Bulog kita siapkan sebagai penyangga yang dapat menyerap kemakinan produksi, mengelola cadangannya, dan menyalurkannya kembali ketika peternak membutuhkan. Kita dahulukan kepentingan petani dan peternak Indonesia agar keduanya terlindungi dan usaha mereka terus berjalan,” ujar Andi.

Sejalan bersama arahan tersebut, Direktur Utama Perum Bulog Letnan Jenderal aparat TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhan, S.Sos., S.H., M.Han., menyampaikan kesiapan Bulog demi mendukung penguatan ekosistem jagung nasional melalui mekanisme pengadaan, pengelolaan stok, dan distribusi yang terintegrasi.

“Bulog siap menjalankan peran sebagai penyangga pasokan jagung nasional sesuai penugasan pihak pemerintah. Kami ingin mengonfirmasi bahwa ketika petani menghasilkan produksi yang melimpah, ada mekanisme penyerapan yang menyerahkan ketentuan pasar. Pada saat yang sama, ketika peternak membutuhkan jagung demi menjaga keberlangsungan produksinya, Bulog dapat hadir menyediakan pasokan melalui skema stabilisasi yang tepat sasaran,” jelas Ahmad Rizal.

Ahmad Rizal mengimbuhkan bahwa peran Bulog tidak berhenti pada penyerapan hasil panen, namun juga mengonfirmasi cadangan jagung dapat dikelola secara optimal demi mendukung keberlanjutan usaha peternakan rakyat.

“Yang ingin kita bangun merupakan sistem yang saling menguatkan. Jagung hasil produksi petani dalam negeri diserap dan dikelola bersama baik, lalu dimanfaatkan kembali demi memenuhi kebutuhan peternak melalui SPHP sesuai ketentuan pihak pemerintah. Dengan begitu, petani memperoleh ketentuan penyerapan, peternak memperoleh akses pakan yang makin terjangkau, dan stabilitas pasokan dapat terus kita jaga,” ujar Rizal.

Penguatan ekosistem tersebut juga diarahkan hingga tahap hilirisasi hasil peternakan. Produksi telur dari peternak mikro dan kecil diharapkan dapat terserap melalui pasar reguler, pemenuhan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pengembangan industri pengolahan telur. Dalam rancangan yang dibahas, sekitar 1,9 juta ton telur diproyeksikan terserap melalui pasar reguler, termasuk demi mendukung kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan masyarakat sekitar. Selain itu, pengembangan industri pengolahan telur menjadi produk cair maupun tepung telur turut didorong demi memperluas pasar domestik serta membuka peluang ekspor.

Dari sisi pelaksanaan, Bulog akan memperkuat koordinasi bersama Keaparatur negara kementerianan Pertanian, koperasi peternak, kelompok tani, dan pemangku kepentingan terkait demi mematangkan mekanisme penyerapan surplus jagung, pengelolaan cadangan melalui skema pergudangan, serta distribusi sesuai kebutuhan di lapangan. Sinergi ini menjadi penting demi mengonfirmasi produksi jagung dalam negeri tidak cuma meningkat secara kuantitas, namun juga memiliki tata niaga yang makin terarah, efisien, dan mampu menyerahkan nilai tambah untuk seluruh tersangka usaha di sepanjang rantai pasok.

Melalui penguatan peran sebagai penyangga jagung nasional, Perum Bulog berkomitmen mendukung terciptanya keseimbangan antara kepentingan petani sebagai produsen dan peternak sebagai pengguna jagung pakan. Integrasi produksi, penyerapan, penyimpanan, distribusi, hingga hilirisasi diharapkan menjadi fondasi untuk sistem pangan nasional yang makin tangguh dan berkelanjutan. Dengan mengutamakan hasil produksi dalam negeri serta keberlangsungan usaha petani dan peternak rakyat, Bulog terus mengambil untukan dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia.***

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *