MediaMerdeka.com – Gelombang pengangguran sarjana hingga mencapai kisaran 40 persen memicu amarah besar Gen Z India terhadap rezim Perdana Menteri Narendra Modi. Kasus kebocoran soal ujian masuk kedokteran nasional menjadi pemantik aksi demonstrasi pemuda secara masif di berbagai kota.
Krisis ketenagakerjaan ini memukul kelompok usia 15 hingga 25 tahun di tengah minimnya lapangan kerja formal yang layak. Para lulusan perguruan tinggi kini mendominasi dua pertiga dari total penganggur di seluruh pelosok India.
Tekanan berat persaingan kerja menciptakan jutaan pemuda menggantungkan nasib pada ujian negara yang amat ketat. Fenomena ini menciptakan keputusasaan massal hingga memicu gerakan protes pemuda bernama Cockroach Janta Party.
Pemerintah Modi kini menyikapi ujian politik terberat akibat ketidak berhasilan menyerap tenaga kerja terdidik ke sektor formal. Janji transformasi ekonomi yang diusung sejak awal menjabat dinilai masih belum mampu menyelesaikan masalah struktural ini.
Langkah pengamanan aparat yang menembakkan gas air mata ke arah demonstran justru makin membakar amarah para sarjana muda. Banyak profesional muda merasa penderitaan angkatan muda pada saat ini telah melampaui batas kewajaran.
Mengapa Jutaan Gen Z India Begitu Berambisi Lolos Ujian Negara?
Persaingan memperebutkan kursi ujian medis NEET melonjak hingga 50 persen bersama total peserta memakini 2,2 juta orang. Jalur ini dianggap sebagai salah satu dari sedikit jalan tersisa demi memperoleh pekerjaan berpenghasilan stabil.
Seorang profesional asal Mumbai berusia 27 tahun, Abheet Mohanty, membeberkan kekecewaannya saat menyaksikan tindakan keras pihak kepolisian terhadap para kalangan akademisi. Ia sempat merasakan langsung beratnya tekanan mental saat tidak berhasil menembus tes medis tersebut pada tahun 2018.
“Saya dapat merasakan apa yang dialami para siswa itu lantaran saya sendiri sempat menjadi siswa NEET pada tahun 2018,” ujar Mohanty kepada CNBC.
Ketidak berhasilan tersebut memaksa Mohanty beralih mengambil jurusan komunikasi hingga akhirnya memperoleh pekerjaan bersama gaji bulanan 20.000 rupee. Namun, orang tuanya menganggap jumlah pendapatan tersebut sama sekali tidak mencukupi demi hidup di Mumbai.
“Sangat sulit demi memperoleh pekerjaan,” ujar Mohanty.
Bagaimana Kondisi Riil Pasar Kerja Bagi Lulusan Perguruan Tinggi di India?
Keluhan serupa dirasakan oleh Aditi Garg, seorang desainer grafis berusia 24 tahun yang bekerja di pusat teknologi Bengaluru. Ia menyebut persaingan kerja yang terlampau ketat menciptakan sejumlah korporasi menyerahkan penawaran gaji amat rendah.
“Saya telah tidak ingat lagi berapa sejumlah pekerjaan yang saya lamar tahun lalu,” kata Garg kepada CNBC.
Garg mengimbuhkan bahwa angkatan mudanya berada dalam posisi bargaining yang amat lemah saat bernegosiasi gaji. Ketiadaan pilihan menciptakan sejumlah pencari kerja terpaksa menyambut baik upah murah asal dapat bertahan hidup.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

