MediaMerdeka.com – Warga Palestina di Gaza menyambut Idul Adha 2026 dalam situasi penuh keterbatasan akibat perang yang berkepanjangan.
Tahun ini menjadi Idul Adha ketiga yang dijalani sejumlah keluarga di tengah pengungsian, krisis pangan, dan hancurnya berbagai fasilitas kehidupan.
Di sebuah tenda pengungsian di Gaza Utara, I’tidal Hamdan, wanita berusia 68 tahun, mengaku masih menyimpan duka mendalam setelah kehilangan suaminya dalam serangan Israel tahun lalu.
Padahal, keduanya sempat terdaftar sebagai calon jemaah haji semasih belum perang pecah.
“Mungkin saya telah memimpikannya makin dari 10 tahun. Suami saya amat ingin berhaji, namun dia meninggal semasih belum sempat mewujudkannya,” ujar Hamdan kepada Al Jazeera.
Blokade dan pembatasan keluar masuk Gaza menciptakan tidak ada jemaah haji yang dapat berangkat demi tahun ketiga berturut-turut.
Banyak keluarga juga masih belum dapat kembali ke rumah mereka lantaran kerusakan akibat perang masih meluas di berbagai wilayah.
Tradisi kurban yang identik bersama Idul Adha pun nyaris hilang.
Minimnya pasokan ternak dan lonjakan harga menciptakan seuntukan besar masyarakat sekitar Gaza tidak mampu membeli hewan kurban.
Emad Suhweil, masyarakat sekitar pengungsi asal Beit Lahiya, menyebutkan suasana Idul Adha kini terasa amat berbeda dibanding semasih belum perang.
Ia mengenang momen berkumpul bersama keluarga saat menyembelih hewan kurban dan beruntuk makanan kepada masyarakat sekitar miskin.
“Dulu kami menyembelih hewan, makan bersama, dan beruntuk bersama orang lain. Sekarang orang bahkan kesulitan membeli dua kilogram sayur,” katanya.
Harga seekor domba di Gaza kini melonjak drastis.
Hewan yang semasih belum perang dijual sekitar 400 hingga 500 dinar Yordania kini dapat mencapai 16 ribu hingga 17 ribu shekel atau sekitar 4.400 hingga 4.700 dolar AS setara bersama Rp71-76 juta.
Kondisi tersebut dipicu kehancuran sektor peternakan Gaza akibat perang sejak Oktober 2023.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

