Harga Minyak Dunia Melonjak saat Rupiah Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Harga minyak mentah dunia kembali melesat tajam bersama kenaikan makin dari 1 persen pada pembukaan sesi perdagangan Rabu (3/6/2026).

Lonjakan harga energi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah setelah militer Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Kuwait dan Bahrain, di tengah kebuntuan pembicaraan diplomatik antara pihak Teheran dan Amerika Serikat (AS).

Melansir data dari Reuters, kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent merangkak naik sebesar USD 1,05 atau setara 1,09 persen hingga menyentuh level USD 97,05 per barel.

Selaras bersama tren tersebut, harga minyak mentah poin West Texas Intermediate (WTI) khusus pasar AS meningkat USD 1,01 atau naik 1,08 persen ke posisi USD 94,77 per barel.

Harga minyak yang stabil di level tinggi, sementara kurs Rupiah pada hari ini tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah yang terus mencetak rekor terburuk berkali-kali ini terjadi cuma dalam 1 tahun 7 bulan pihak pemerintahan Prabowo Subianto.

Terpisah, di penutupan sesi perdagangan semasih belumnya, kedua instrumen acuan minyak internasional ini bahkan sempat nangkring di posisi tertinggi mereka dalam kurun waktu sepekan terakhir.

Berdasarkan laporan resmi dari pihak militer Amerika Serikat, Iran terdeteksi melepaskan sejumlah rudal balistik yang diarahkan langsung ke dua negara tetangganya, yakni Kuwait dan Bahrain, meskipun rangkaian serangan udara tersebut dikabarkan tidak berhasil mengenai sasaran utama.

Merespons agresivitas tersebut, komando pasukan AS di kawasan itu langsung mengambil tindakan tegas bersama melancarkan serangan balasan yang menyasar fasilitas militer di Pulau Qeshm milik Iran.

Para tersangka pasar komoditas global pada saat ini tengah memantau ketat dinamika konflik tersebut dari dekat. Situasi dinilai semakin abu-abu lantaran Teheran sebenarnya sedang berada dalam fase meninjau draf proposal kesepakatan damai bersama AS guna menghentikan perang yang telah berkecamuk.

Namun, media lokal di Iran menginformasikan bahwa pihak pemerintah Teheran mengklaim masih belum menjalin komunikasi diplomatik lagi bersama Washington selama sejumlah hari terakhir.

Pernyataan tersebut kontras bersama klaim Presiden AS Donald Trump yang menegaskan di hadapan publik bahwa proses negosiasi antar kedua belah pihak masih terus berjalan.

Di sisi lain, tantangan logistik distribusi energi kian pelik. Senior Commodity Strategist dari ANZ Bank, Daniel Hynes, membeberkan bahwa upaya internasional demi membuka kembali akses pelayaran aman di Selat Hormuz menemui jalan buntu.

Hal ini dilantarankan militer Iran telah menyebar ranjau laut di seuntukan besar jalur perairan vital yang menjadi urat nadi pengiriman minyak dunia tersebut.

“Memang ada sedikit peningkatan jumlah kapal yang berupaya melintas, namun total transit secara keseluruhan masih jauh di bawah level semasih belum konflik terjadi,” papar Daniel Hynes dalam analisis pasarnya.

Meskipun operasi militer bersama yang diluncurkan oleh AS dan Israel ke wilayah Iran telah berjalan selama makin dari tiga bulan, konfrontasi bersenjata ini dinilai mengawali memasuki fase buntu (deadlock) di tengah skema gencatan senjata yang amat rapuh.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *