Rupiah Terus Melemah: Pengusaha MBG Protes, Harga Sabun hingga Popok Naik

admin
By
admin
8 Min Read

MediaMerdeka.com – Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat mengawali terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Rupiah pada pekan lalu telah mencapai di ats Rp17.800 per dolar AS, rekor terendah dalam sejarah.

Harga produk-produk yang bahan bakunya diimpor, mengawali dari barang konsumsi, bahan makanan, elektronik hingga otomotif mengawali merasakan kenaikan.

Produk konsumsi harian bagaikan deterjen, pembalut hingga sabun diperkirakan akan naik, setidaknya mengawali Semester II pada tahun ini. Harga alat elektronik bagaikan ponsel juga telah mengawali naik dan akan terus naik pada tahun ini. Sementara di sektor otomotif harga mobil juga diramalkan naik di paruh kedua 2026.

Sementara dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis atau MBG juga telah mengawali menjerit lantaran mahalnya harga bahan baku makanan bagaikan tempe dan tahu, yang bahan baku utamanya merupakan kedelai – komoditas yang diimpor dari luar negeri memakai dolar.

Apa yang terjadi dan apa yang wajib dilakukan pihak pemerintah?

Dapur MBG menjerit, harga tempe dan tahu melejit

Pekan lalu Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makanan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) telah mengeluh harga bahan baku makanan naik dan mengancam keberlangsungan operasi mereka.

Ketua Umum PP APPMBGI, Abdul Rivai Ras, menyebutkan kondisi nilai tukar Rupiah yang kini menyentuh Rp17.850 per Dolar AS turut memicu kenaikan biaya produksi dan distribusi makanan bergizi di berbagai daerah.

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada kenaikan harga sejumlah bahan baku yang masih bergantung pada impor bagaikan susu, gandum, kedelai, minyak nabati, hingga pupuk.

Para pengrajin tempe dan tahu juga mengeluhkah harga kedelai yang naik sekitar Rp2000 per kg. Di Yogyakarta para pengrajin tempe dan tahu terpaksa bertahan ketika harga kedelai telah mencapai Rp 11.000 per kg.

Sementara di Lebak, Banten para pengrajin memperkecil ukuran tahu produksi mereka lantaran harga kedelai kini telah menyentuh angka Rp545.000 per 50 kg dari semasih belumnya cuma sekitar Rp300.000 per 50kg.

“Kami kini terpaksa mengurangi ukuran menjadi makin kecil agar dapat bertahan, lantaran harga kedelai melambung,” kata Mad Soleh (58), seorang perajin tahu di Rangkasbitung.

Harga sabun hingga popok naik

Di saat yang sama produsen produk konsumsi harian asal Jepang, KAO juga menyebutkan bahwa pihaknya akan dalam waktu dekat menaikkan harga akibat meningkatnya biaya impor bahan baku produksi. KAO memproduksi berbagai produk konsumsi mengawali dari sabun Biore, deterjen Attack hingga pembalut Laurier hingga popok bayi Merries.

Presiden Direktur KAO Indonesia Shoichi Hasegawa menyebutkan telah mengumumkan kepada para distributor akan menaikkan harga produk-produknya menyusul naiknya harga bahan baku yang diimpor akibat melemahnya nilai tukar rupiah serta konflik di Timur Tengah.

Hasegawa menyebutkan produk deterjen merupakan yang teramat terdampak lantaran memakai bahan baku nafta dan bahan turunan minyak bumi lainnya yang diimpor dari Timur Tengah.

“Kami memiliki sejumlah produk. Ada bahan baku yang masih dapat kami impor, tapi ada juga yang tidak. Ini menciptakan produksi melambat,” terang dia dilansir dari Nikkei Asia.

Hal ini kata dia berdampak ke seluruh pedagang. Ada yang bahkan telah mengawali menimbun barang, semasih belum kebijakan kenaikan harga berlaku.

Harga ponsel dan mobil juga naik

Di sektor elektronik, harga ponsel diperkirakan akan semakin mahal saja pada tahun ini. Menurut Research Associate Counterpoint, Ridwan Kusuma harga smartphone pada 2026 telah naik akibat krisis cip memori yang berlangsung sejak akhir 2025.

Tetapi kondisi ini diperparah oleh melemahnya rupiah, yang menciptakan impor bahan baku – termasuk cip memori – semakin mahal saja.

“Sekarang telah jarang sekali ada ponsel bersama harga di bawah Rp 2 juta,” kata Ridwan kepada MediaMerdeka.com.

Ia memperkirakan harga ponsel masih akan naik di Kuartal II 2026 dan menekan permintaan, terutama di segmen ponsel entry level yang berada di kisaran Rp2 jutaan..

“Karena pedagang ritel telah tidak barangkali lagi menahan harga bagaikan tahun lalu,” lanjut dia.

Counterpoint memperkirakan harga ponsel di Indonesia akan naik di kisaran 7 sampai 36 persen pada pada tahun ini.

Sementara sejumlah sumber dari industri otomotif menyebutkan kenaikan harga mobil bagaikannya tak dapat dibendung lagi di Semester II pada tahun ini. Kenaikan diperkirakan berkisar 2 sampai 4 persen.

Meski demikian Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) masih belum lama ini memperkirakan kenaikan harga mobil masih belum terjadi dalam waktu dekat, lantaran para produsen tak mau momentum kenaikan penjualan di Kuartal I 2026 terganggu.

Tekanan ke industri

Direktur Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menyebutkan tekanan terhadap industri manufaktur sebenarnya mengawali terlihat sejak Maret 2026.

Faisal juga menyebut Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia sempat mencapai level 53,8 pada Februari 2026, namun turun ke level 49,1 pada April 2026 atau kembali masuk zona kontraksi.

Berdasarkan kajian CORE Insight, sekitar 70 persen impor Indonesia masih didominasi bahan baku dan komponen industri berakibat pelemahan rupiah serta gangguan rantai pasok global cepat berdampak pada biaya produksi domestik.

Menurut Faisal, struktur industri domestik wajib diperkuat agar manufaktur nasional makin tahan terhadap tekanan eksternal. Ia menilai sektor yang perlu diperkuat antara lain petrokimia berbasis nafta, tekstil dan produk tekstil, serta besi dan baja.

Petrokimia berbasis nafta penting diperkuat lantaran menjadi bahan baku utama industri tekstil dan plastik, sementara itu industri besi dan baja dibutuhkan demi menopang rantai pasok manufaktur dan konstruksi domestik.

Adapun industri tekstil dan produk tekstil dinilai strategis lantaran menyerap sekitar 3,76 juta tenaga kerja atau sekitar 19 persen dari total tenaga kerja manufaktur nasional.

“Pemerintah perlu menyerahkan ruang demi industri manufaktur bergerak makin baik dan meringankan beban daripada peningkatan biaya produksi serta menjaga akses pasar domestik,” ungkap Faisal.

CORE mengusulkan dukungan kebijakan berupa relaksasi bea masuk bahan baku strategis, percepatan restitusi pajak, dan subsidi input untuk industri yang sehat namun tertekan biaya.

Sejalan bersama itu, pihak pemerintah terus mendorong penguatan struktur industri nasional melalui kebijakan hilirisasi dan pengembangan industri bahan baku domestik, termasuk pada sektor petrokimia dan baja demi memperkuat rantai pasok industri nasional.

Pemerintah juga menargetkan investasi hilirisasi mencapai sekitar Rp3.800 triliun demi sejumlah komoditas prioritas guna memperkuat rantai pasok industri nasional dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Sementara Ketua Umum PP APPMBGI, Abdul Rivai Ras menyebutkan diperlukan langkah efisiensi yang terukur agar kualitas menu dan kandungan gizi yang diterima peserta MBG dapat tetap terjaga.

“Efisiensi hari distribusi justru menjadi langkah preventif agar kualitas program tetap terjaga. Jika tidak dilakukan kini, risiko yang muncul bukan cuma pembengkakan defisit anggaran, namun juga potensi penurunan kualitas gizi makanan yang diterima kalangan anak. Ini menyangkut masa depan generasi bangsa,” katanya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *