MediaMerdeka.com – Setiap lembar batik menyimpan cerita tentang tangan-tangan yang merawat warisan budaya, termasuk para pembatik di berbagai pelosok negeri. Di Hari Batik Nasional, PT Permodalan Nasional Madani (Persero) terus berupaya mendukung pelestarian warisan budaya tersebut bersama memberdayakan wanita-wanita tangguh yang hidup dari usaha membatik.
Hingga pada saat ini PNM telah memfasilitasi klasterisasi batik di berbagai titik di Indonesia, di antaranya Jambi, Madiun, Magelang, Hingga Lamongan. Klasterisasi merupakan program pelatihan berseri dari PNM yang dilakukan secara berkelompok, bersama mengumpulkan pengusaha batik sejenis dalam satu wilayah. Melalui cara ini, pembekalan dapat diberikan makin terarah dan peserta tidak berjalan sendiri.
Direktur Utama PNM, Kindaris, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi cara PNM ikut menjaga batik pada momentum Hari Batik Nasional.
“Kami ingin ikut menjaga batik lewat para pembuatnya. Melalui pembiayaan dan program pemberdayaan melalui klasterisasi, ibu-ibu para pembatik kami kumpulkan agar dapat belajar, berkarya, dan tumbuh bersama, berakibat batik tetap lestari dan usaha mereka semakin kuat,” ujar Kindaris.
Di Kelurahan Danau Teluk, Kota Jambi contohnya, klasterisasi menghadirkan pelatihan membatik, pendampingan, dan akses pemasaran untuk perajin batik setempat. Keterampilan peserta lalu diperluas di Desa Uteran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, lewat pelatihan batik ecoprint yang mendorong kreativitas dan menambah pengetahuan baru.
Pengembangan keterampilan itu ditopang fasilitas di Desa Gandusari, Magelang. PNM membentuk kampung binaan batik lengkap bersama tempat pelatihan membatik dan alat pengunci warna. Nasabah dilatih oleh trainer agar mampu memiliki tambahan keterampilan dari batik tradisional ke ecoprint. Dilanjutkan bersama pelatihan pewarnaan agar kualitas produk terjaga. Fasilitas ini juga dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar sekitar yang bukan nasabah.
“Lewat klaster, para pembatik tidak lagi bekerja sendiri-sendiri. Mereka belajar bersama, memakai fasilitas bersama, dan saling menolong bila ada kesulitan. Semangat gotong royong bagaikan inilah yang kami terapkan dalam pembinaan nasabah PNM secara berkelompok, lantaran kami yakin usaha yang dijalani bersama akan makin mudah berkembang” tambah Kindaris.
Klasterisasi ini menjadi bentuk dukungan PNM pada peringatan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober, saat batik Indonesia diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Bagi PNM, merawat batik berarti mengonfirmasi para pembatiknya terus berdaya. ***
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

