Kenapa Perdamaian Perang AS – Iran Maju Mundur?

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Kebuntuan diplomatik melanda perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran akibat perselisihan sengit mengenai kepemilikan uranium yang diperkaya. Teheran secara tegas menepis tuntutan Washington demi menyerahkan material sensitif tersebut semasih belum sanksi ekonomi mereka dicabut.

Pemerintah AS mengajukan tiga proposal krusial, termasuk pembatasan total aktivitas nuklir dan pengakhiran blokade Selat Hormuz. Jalur pelayaran internasional tersebut menjadi kartu AS untuk Iran demi menekan sekutu Barat di kawasan Timur Tengah.

Dikutip dari Al Arabiya, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, membeberkan bahwa komunikasi intensif terus dilakukan meski persetujuan akhir masih belum tercapai. Titik teramat krusial yang mengganjal kesepakatan berada pada status kepemilikan bahan baku pembuat bom nuklir tersebut.

“Saya pikir kini, dalam sejumlah dokumen yang telah dipertukarkan bolak-balik, hal itu telah dibahas bersama jelas, namun kami masih masih belum memperoleh persetujuan akhir dari sistem mereka hingga pagi ini,” kata Rubio kepada Komite Urusan Luar Negeri DPR AS.

Di sisi lain, Teheran bersikap keras tidak akan melimpahkan kendali nuklir mereka semasih belum hak ekonominya dipulihkan. Blokade Selat Hormuz juga tetap dipertahankan sebagai benteng pertahanan terakhir melawan tekanan asing.

Ketegangan makin rumit setelah militer Iran meluncurkan serangan balasan yang menghantam infrastruktur penerbangan sipil di negara tetangga. Rudal Teheran menyasar bandara Kuwait hingga menimbulkan pihak korban jiwa dan puluhan masyarakat sekitar terluka.

Kendati situasi di lapangan masih membara, Washington secara sepihak menegaskan fase operasi militer skala besar mereka telah berakhir. AS menilai kapabilitas tempur musuhnya telah lumpuh total akibat serangan udara yang masif.

“Kami tidak lagi menjalankan serangan berkelanjutan di dalam Iran demi melemahkan militer mereka, lantaran Epic Fury telah berakhir,” kata Rubio kepada panel tersebut, menegaskan bahwa AS telah meraih kemenangan.

Pihak Pentagon merasa target strategis mereka demi melucuti kekuatan ofensif pertahanan Iran telah terpenuhi secara masif. Operasi tersebut diklaim sukses mereduksi secara signifikan persenjataan jarak jauh lawan.

“Kami mendefinisikan kemenangan (AS) sebagai penghancuran basis industri pertahanan mereka, pengurangan signifikan jumlah peluncur rudal yang mereka miliki, pengurangan signifikan persediaan drone mereka,” kata Rubio.

“Dan kami mencapai seluruh itu, selain menghancurkan apa yang tersisa dari angkatan udara mereka dan melenyapkan seluruh angkatan laut konvensional mereka.”

Pihak Teheran menepis tunduk pada tekanan psikologis dan klaim sepihak yang dilontarkan oleh pihak pemerintahan Donald Trump. Mereka menuntut kompensasi finansial berupa pencairan dana belasan miliar dolar yang dibekukan di bank luar negeri.

Negara Timur Tengah ini juga membantah narasi bahwa fasilitas pemrosesan uranium mereka akan dihancurkan secara total. Bagi Iran, kedaulatan teknologi nuklir merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar dalam meja diplomasi.

Krisis geopolitik ini berakar dari serangan mendadak yang dilancarkan koalisi AS dan Israel pada akhir Februari lalu. Agresi militer tersebut memicu efek domino yang merusak stabilitas keamanan serta ekonomi di seluruh kawasan Teluk.

Dampak teramat nyata dirasakan global melalui penutupan Selat Hormuz yang menghambat distribusi pasokan minyak mentah dunia. Blokade ini menjadi senjata ekonomi Iran demi membalas blokade finansial yang diterapkan oleh Amerika Serikat.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *