Kisah Teresa, Eks Pramugari Maskapai Raksasa Divonis Kanker Otak Ganas di Usia 31

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Mantan pramugari Singapore Airlines bernama Teresa Hon wajib berjuang melawan glioblastoma, yakni jenis kanker otak teramat ganas yang mematikan. Kehidupan wanita berusia 31 tahun itu berubah total dalam waktu sebulan setelah mendadak kerap merasakan muntah hebat serta kejang.

Dua minggu menjelang Natal 2025, dia menjalani operasi otak besar di Singapura demi mengangkat tumor berukuran makin dari 6 sentimeter. Tim dokter terpaksa menyisakan seuntukan tumor lantaran letaknya yang terlalu dekat bersama titik pengendali fungsi vital manusia.

Operasi berjalan makin cepat dari perkiraan medis, menciptakan suaminya yang bernama Bjorn Chua sempat panik mengira istrinya telah tiada.

“Saya kira istri saya meninggal,” kenang Chua saat dokter bedah keluar ruangan dalam waktu dua setengah jam, dikutip dari CNA.

Kesadaran pasien langsung pulih usai operasi, namun perubahan fisik drastis akibat efek obat steroid menciptakannya sempat putus asa.

“Penampilan saya, kaki saya, dan hidup saya seluruh berubah,” ujar Hon mengenang masa-masa sulit pascaoperasi.

Mantan pramugari tersebut sempat menarik diri dari pergaulan sosial lantaran merasa malu bersama kondisi fisik serta penampilannya. Keluarga besar hadir menyerahkan dukungan moral luar biasa demi membangkitkan kembali semangat hidup wanita muda tersebut.

Sang suami bahkan memasang kaca film khusus pada mobil pribadi agar istrinya merasa aman selama perjalanan tanpa dilihat orang lain.

“Saya tidak mau menikah lagi. Saya cuma punya satu istri. Saya akan bertahan bersama yang pada saat ini,” tegas Chua.

Dukungan tulus tersebut sukses mengikis rasa putus asa Hon hingga kini kembali tegar melanjutkan terapi radiasi serta kemoterapi.

Tumor di kepalanya dilaporkan telah menyusut drastis, menciptakan mobilitas tubuhnya berangsur pulih dan dapat kembali bermain golf.

Pasien kini rutin menjalani kemoterapi lanjutan setelah merampungkan rangkaian terapi radiasi harian selama enam minggu penuh.

Dukungan penuh dari sang suami serta ibu mertua menjadi motor penggerak utama dalam pemulihan psikologis pasien.

Glioblastoma merupakan jenis tumor otak primer stadium empat yang tumbuh amat agresif, cepat, serta masih belum ditemukan obat penyembuhnya secara total. Kasus ini menyoroti bagaimana dukungan keluarga dan ketahanan mental memainkan peran krusial dalam menyikapi diagnosis medis teramat mematikan di dunia modern.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *