MediaMerdeka.com – Perubahan iklim global terus mendorong lonjakan suhu ekstrem di berbagai belahan dunia, termasuk Afrika untukan selatan. Fenomena global ini menciptakan tantangan baru di sektor pendidikan, di mana ruang kelas yang sewajibnya menjadi tempat aman untuk kalangan anak demi menuntut ilmu, kini justru berubah menjadi lingkungan yang amat panas dan berisiko memengaruhi kesehatan serta kemampuan belajar kalangan anak secara langsung.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Phys.org, ruang kelas yang panas dapat memengaruhi konsentrasi, daya ingat, perilaku, dan kesuksesan akademis. Sementara itu, kesehatan fisik dan mental juga turut terganggu, terutama di sekolah-sekolah bersama ventilasi buruk, ruang kelas yang terlalu padat, dan akses yang terbatas terhadap air minum.
Dampak Suhu Tinggi terhadap Pembelajaran dan Kesehatan
Penelitian dari South African Medical Research Council dan University of Johannesburg memperlihatkan bahwa suhu ruangan di atas 25 derajat Celsius berkorelasi bersama peningkatan angka ketidakhadiran siswa. Di Johannesburg, hampir seluruh anak yang diteliti menginformasikan penurunan tingkat konsentrasi akibat panas. Secara biologis, kalangan anak makin rentan merasakan dehidrasi dan kesulitan mengatur suhu tubuh dibanding orang dewasa.
Selain menurunkan fokus dan daya ingat, paparan suhu ekstrem di dalam kelas turut memicu gangguan fisik bagaikan sakit kepala, pusing, kelelahan, dan stres akibat panas. Kondisi malam hari yang panas juga mengganggu tidur siswa. Hal ini berdampak pula pada performa mereka keesokan harinya. Dampak negatif ini tidak cuma dialami siswa, namun juga para guru yang bersama keluhan sama dalam gangguan fisik dan penurunan kemampuan demi mengajar secara efektif.
Kesenjangan Infrastruktur Antara Ruang Kelas Pedesaan dan Perkotaan
Kondisi bangunan sekolah turut memperparah situasi. Banyak ruang kelas menjadi perangkap panas lantaran penggunaan atap logam bergelombang serta buruknya isolasi dan aliran udara. Namun, beban ini tidak tersebar merata. Data penelitian membandingkan sekolah di perkotaan dan pedesaan.
Hasilnya, sekolah perkotaan mencatat suhu rata-rata harian maksimum 32 derajat Celsius, sementara itu sekolah pedesaan mencapai 42 derajat Celsius. Penggunaan kipas angin dinilai efektif di wilayah perkotaan, namun tidak efektif di ruang kelas pedesaan. Di sisi lain, kerusakan atau bangunan sekolah di pedesaan yang tidak memiliki langit-langit, menciptakan suhunya jauh makin tinggi.
Ruang kelas perkotaan tercatat makin mampu mempertahankan suhu nyaman di kisaran 25 derajat Celsius hingga 28 derajat Celsius. Kesenjangan fasilitas ini, ditambah bersama kelangkaan akses air minum di sejumlah area, turut memperlebar jarak kualitas pendidikan dan kesehatan antarwilayah.
Kebutuhan Langkah Adaptasi Sekolah
Untuk menyikapi tren suhu yang terus meningkat, peneliti mengusulkan sistem pendidikan wajib menjalankan adaptasi infrastruktur dan kebijakan. Langkah praktis yang dapat diambil meliputi perbaikan ventilasi, penanaman pohon peneduh, penggunaan bahan atap sejuk, dan penyediaan air bersih. Selain itu, diperlukan fleksibilitas jadwal aktivitas luar ruangan, penerapan sistem peringatan dini cuaca panas, serta pelatihan untuk staf sekolah demi mengenali gejala penyakit akibat panas.
Yang terpenting dari itu seluruh merupakan kalangan anak dan kaum muda wajib dilibatkan dalam perencanaan adaptasi iklim. Mereka merupakan orang-orang yang telah merasakan dampak perubahan iklim secara langsung.
Penulis: Vicka Rumanti
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

