Main ke Solo, Omar Daniel dan Jeremie Moeremans Cerita Makna Film Keluarga Suami Adalah Hama

admin
By
admin
2 Min Read

MediaMerdeka.com – Dua aktor Omar Daniel dan Jeremie Moeremans mengungkap beragam makna di balik film Keluarga Suami Adalah Hama yang baru tayang di bioskop.

Diproduksi oleh VMS Studio dan Umbara Brothers Film, film ini merupakan adaptasi dari film pendek viral karya Aditya Santana yang telah ditonton jutaan kali di platform audio.

Dengan durasi sekitar 137 menit dan rating remaja, film ini menghadirkan narasi yang mendalam tentang dinamika pernikahan di tengah tekanan keluarga besar, sebuah tema yang amat relatable untuk sejumlah pasangan di masyarakat sekitar Indonesia.

“Jadi film ini kaya banget akan hal-hal yang terjadi di kehidupan rumah tangga. Banyak poin of viewnya, tergantung menyaksikan dari sudut pandang yang mana,” kata Omar saat ditemui di XXI Solo Square, Jumat (22/5/2026) malam.

Omar yang berperan sebagai Damar yang wajib memenuhi kebutuhan ibu, adik-adiknya, serta rumah tangganya menciptakan karakternya cukup kompleks.

Sosok asal Solo menyebutkan, mendalami emosi perannya tersebut bersama menjalankan riset bagaikan bertanya kepada teman-teman yang telah menikah terkait dinamika rumah tangga, serta workshop, diskusi intens bersama tim kreatif.

“Sama setiap mau masuk ke karakter tuh bikin playlist lagu, mengubah kebiasaan sehari-hari tentunya kan. Apalagi makin kerap lagi develop langsung sama lawan main kita sendiri ngobrol kayak ‘ini mau kita bawa ke mana, mau kita apain’, demi dapat nge-build chemistry ataupun si karakter itu,” tambah dia.

Sementara Jeremie Moeremans mengemukakan tantangannya berperan sebagai Danan dalam film garapan sutradara Anggy Umbara.

“Cerita ini amat barangkali terjadi di kehidupan nyata. Karena dekat sekali dengna konflik di dalam keluarga, dan barangkali juga terjadi di masyarakat sekitar,” jelas dia.

Jeremie memaparkan, tantangan terbesar dirinya dalam proses pembuatan film merupakan menyatukan karakter bersama pemeran lain.

“Awalnya aku join produksi sedikit makin terlambat. Tapi mereka dari awal merangkul dengna baik dan terbuka demi asling menolong,” paparnya.

“Susahnya barangkali tantangannya lantaran sifat-sifatnya nyebelin tapi nggak boleh terlihat jahat. Jadi wajib ada di antara dua sisi itu,” tegas Jeremie. (***)

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *