Manufaktur Indonesia Kembali Terpuruk, PMI Jatuh di Bawah 50

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Industri manufaktur Indonesia kembali terpuruk. Setelah sempat mencatat ekspansi tipis pada Juli 2026, aktivitas manufaktur kembali terperosok ke zona kontraksi pada Agustus.

Berdasarkan survei S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Agustus 2026 turun menjadi 49,8, dari 50,2 pada Juli. Angka di bawah 50 memperlihatkan aktivitas industri manufaktur kembali merasakan kontraksi.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Maryam Baluch menyebutkan, penurunan PMI terutama didikarenakankan kembali melemahnya output dan ketenagakerjaan.

“Data PMI terbaru memperlihatkan sedikit penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia, lantaran penurunan kembali pada output dan penyerapan tenaga kerja membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan semasih belumnya,” ujar Baluch dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).

Masalah terbesar terlihat dari kinerja produksi dan tenaga kerja. Berdasarkan survei S&P Global, produksi manufaktur Indonesia tercatat menurun dalam lima dari enam periode survei terakhir.

Penurunan output pada Agustus memang masih tergolong moderat. Namun, kondisi tersebut memperlihatkan industri masih kesulitan meningkatkan kapasitas produksinya di tengah tekanan pasar.

Sejumlah tersangka industri mengeluhkan persaingan yang semakin ketat, permintaan yang masih lesu, serta kenaikan harga barang yang menghambat aktivitas produksi.

Tekanan terhadap produksi lalu merembet ke pasar tenaga kerja. Sejumlah korporasi kembali menjalankan pengurangan jumlah pegawai.

Tidak cuma melalui pemutusan atau pengurangan tenaga kerja, korporasi juga menyikapi persoalan lain berupa sulitnya mempertahankan pekerja akibat pengunduran diri secara sukarela.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, terdapat sedikit kabar baik dari sisi permintaan.

Indeks pesanan baru yang telah disesuaikan secara musiman kembali masuk zona ekspansi demi pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir.

Namun, pemulihan tersebut masih amat tipis. Indeks pesanan baru cuma berada sedikit di atas level netral 50.

Sejumlah korporasi memang menginformasikan adanya peningkatan permintaan pelanggan. Akan namun, perbaikan itu masih tertahan oleh lemahnya permintaan, persaingan yang semakin sengit, serta penurunan daya beli konsumen.

Perusahaan manufaktur relatif mempertahankan aktivitas pembeliannya pada Agustus. Kondisi ini berbeda bersama lima bulan semasih belumnya ketika aktivitas pembelian terus merasakan penurunan.

Meningkatnya pesanan baru mendorong seuntukan korporasi mengawali kembali membeli bahan baku. Persediaan input pun meningkat demi pertama kalinya dalam lima bulan, meski pertumbuhannya masih tipis.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *