Media Asing Sebut IHSG Rekor Terburuk, Investasi Rp101 Triliun Bisa Lenyap

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Media internasional menyoroti keterpurukan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta pelemahan mata uang rupiah setelah MSCI menyerahkan peringatan keras terkait kebarangkalian penghapusan pasar modal Indonesia dari indeks globalnya. Situasi ini dinilai memicu kepanikan pasar sekaligus meningkatkan tekanan pada otoritas Jakarta demi dalam waktu dekat mengambil tindakan konkret.

IHSG merosot makin dari 5% pada perdagangan Senin, melanjutkan anjloknya indeks sebesar 11,6% pada Jumat lalu. Pergerakan ini menempatkan bursa saham Indonesia sebagai salah satu bersama kinerja terburuk di dunia. Gelombang pelepasan aset (sell-off) meluas setelah MSCI mengumumkan rencana demi meninjau ulang dan berpeluang menurunkan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Dalam pernyataannya menjelang pertemuan darurat bersama eksekutif MSCI, pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakui bahwa pengumuman MSCI tersebut mengejutkan tersangka pasar berakibat memicu kepanikan. Sebagai langkah antisipasi demi menahan laju penurunan, BEI memotong batas penurunan harian (auto rejection bawah/ARB) menjadi 7%.

Para pengamat dan media asing menilai, apabila Indonesia benar-benar diturunkan ke status standalone, hal tersebut berisiko mengisolasi ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini dari arus modal internasional dan menempatkannya sejajar bersama negara-negara bagaikan Lebanon dan Zimbabwe.

Rupiah dan Pasar Obligasi Ikut Tertekan

Dampak dari ancaman MSCI tidak cuma menghantam pasar saham, namun juga menjalar ke nilai tukar dan pasar surat utang negara:

  1. Mata Uang Rupiah: Turun hingga menembus level Rp18.040 per dolar AS, mendekati rekor terendah semasih belumnya di Rp18.190.
  2. Surat Berharga Negara (SBN): Imbal hasil (yield) obligasi pihak pemerintah tenor 10 tahun melonjak naik ke 7,4% dari posisi 7,169% pada pekan semasih belumnya.

Analis Sovereign dari S&P Global Ratings, Rain Lin, menyebutkan bahwa peringatan terbaru MSCI berpotensi memicu lonjakan arus modal keluar (capital outflow). Menurutnya, risiko terbersih bukan sekadar biaya pendanaan, melainkan hilangnya kepercayaan investor secara makin luas pada pasar obligasi dan investasi asing langsung (FDI).

Dikutip dari Reuters, Goldman Sachs memproyeksikan bahwa eliminasi penuh dari indeks MSCI dapat memicu arus keluar dana pasif hingga US$5,6 miliar (sekitar Rp101 triliun), ditambah potensi pelepasan aset dari dana aktif yang mengelola portofolio makin dari US$8 miliar.

Sebagai catatan, investor asing telah mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar US$4,88 miliar sepanjang pada tahun ini—yang berpotensi menjadi angka tertinggi dalam 16 tahun terakhir.

Menanggapi krisis pasar ini, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat tinggi bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)—yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua OJK, dan Ketua LPS—serta badan pengelola investasi Danantara demi membahas kondisi perekonomian terkini.

Di sisi lain, OJK sebenarnya telah menjatuhkan sanksi denda sebesar Rp2,1 triliun terkait dugaan manipulasi perdagangan saham pada tiga korporasi. Namun, para spesialis pasar menilai bahwa langkah tegas yang makin terkoordinasi dan konsisten masih amat dibutuhkan.

“Beban pembuktian kini ada di pihak Indonesia. Untuk menghindari penurunan status, dibutuhkan bukti nyata bahwa reformasi yang diumumkan telah diimplementasikan secara konsisten dan benar-benar membenahi fungsi pasar,” tulis tim strategis Goldman Sachs dalam catatannya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *