Mengenang KH Syukron Mamun, Pengasuh Daarul Rahman yang Tutup Usia di Umur 84 Tahun

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Tokoh ulama kharismatik sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, KH Syukron Ma’mun, dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (18/10/2026) pagi. Kepergian ulama kelahiran Sampang, Madura, ini menyisakan duka mendalam untuk umat Islam Indonesia yang mengenal sosoknya sebagai pendakwah vokal berjuluk “Singa Podium”.

Sepanjang hayatnya, KH Syukron Ma’mun dikenal memiliki retorika dakwah yang tegas, lugas, dan bertumpu pada argumentasi keagamaan yang kuat.

Latar Belakang Keluarga dan Rejasa Pendidikan

KH Syukron Ma’mun lahir di Sampang, Madura, Jawa Timur, pada 21 Desember 1941. Beliau tumbuh di lingkungan keluarga pesantren yang kental. Ayahnya, KH Makmun Nawawi, merupakan seorang kiai lokal, sementara ibunya, Hj Masturoh, aktif mengajar Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik.

Perjalanan menuntut ilmunya diawali di Sekolah Rakyat dan Madrasah Miftahul Ulum. Beliau lalu memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, semasih belum akhirnya melanjutkan ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponoro. Di Gontor, beliau menyelesaikan pendidikan Kulliyatul Mu’allimin dan mengakhiri jenjang perguruan tinggi di Institut Pendidikan Darussalam Gontor bersama gelar Bachelor of Arts pada tahun 1966.

Aktivitas dakwah KH Syukron Ma’mun telah dimengawali sejak masa mudanya di Gontor. Pada rentang tahun 1967, beliau aktif berceramah di berbagai pelosok Jawa Timur, bagaikan Madiun, Pacitan, Ngawi, hingga Magetan.

Gaya orasinya yang membakar semangat, intonasi suara yang mantap, serta penguasaan materi yang mendalam menciptakannya dianugerahi julukan “Singa Podium”. Setelah hijrah ke Jakarta, jangkauan dakwahnya meluas hingga ke berbagai provinsi di Sumatra, Kalimantan, Maluku, bahkan ke mancanegara di kawasan Asia Tenggara.

Pendirian Ponpes Daarul Rahman dan Organisasi
Pada 11 Januari 1975, KH Syukron Ma’mun mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jakarta Selatan. Berawal dari majelis pengajian masyarakat sekitar, lembaga ini berkembang menjadi pesantren modern yang memadukan kurikulum salafiyah, penguasaan kitab kuning, serta penguasaan bahasa Arab dan Inggris untuk para santrinya.

Selain fokus pada dunia pendidikan Islam, beliau juga berkiprah di panggung politik dan organisasi keagamaan. Beliau tercatat sempat menjabat sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI) serta memiliki kedekatan historis bersama jaringan Nahdlatul Ulama sejak masa mudanya di Ponorogo.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *