MediaMerdeka.com – Perang dan penanaman ranjau di sepanjang perairan Laut Merah telah mengubah wilayah tangkapan ikan nelayan Yaman menjadi arena pertempuran mematikan. Krisis keamanan ini menghancurkan fondasi ekonomi pesisir dan memaksa puluhan ribu pekerja laut mempertaruhkan nyawa demi memberi makan keluarga.
Blokade wilayah laut oleh faksi bersenjata serta risiko ledakan bawah air memicu kehancuran mata pencaharian utama masyarakat sekitar pesisir. Kondisi tersebut menciptakan pola migrasi pekerjaan baru, di mana para nelayan terpaksa menjual aset melaut demi beralih ke profesi darat.
Membengkaknya biaya bahan bakar dan sewa perahu kian memperberat beban hidup nelayan di wilayah al-Makha. Tantangan terbesar pekerja pesisir pada saat ini bukan lagi minimnya tangkapan ikan, melainkan ancaman tidak dapat kembali bersama selamat.
Insiden penembakan terhadap kapal nelayan lokal di al-Khawkhah masih belum lama ini menewaskan dua orang tanpa adanya kejelasan dari otoritas terkait. Kejadian misterius tersebut memperpanjang daftar kasus hilangnya para pekerja laut tanpa jejak di perbatasan perairan konflik.
“Baru-baru ini, sebuah kapal nelayan di al-Khawkhah ditembaki, dan kami kehilangan dua rekan,” kata Mazhar dikutip dari Al Jazeera, Kamis (12/8/2026).
“Tidak ada yang tahu alasannya, dan pihak berwenang masih belum mengumumkan penyebab kejadian tersebut.”
Mengapa Perairan Laut Merah Kini Sangat Berbahaya Bagi Nelayan?
Kawasan pesisir Laut Merah Yaman merupakan pusat industri perikanan nasional yang dulunya menjadi penyumbang ekspor terbesar kedua setelah minyak bumi. Sejak perang pecah pada 2015, hasil studi tahun 2018 mencatat volume ekspor ikan dari wilayah ini telah merosot tajam hingga 70 persen.
Restriksi ketat yang diberlakukan oleh faksi militer membatasi zona berlayar nelayan hingga ke area dangkal dekat pantai. Pembatasan ini menciptakan para nelayan kehilangan akses ke terumbu karang buatan yang telah mereka bangun secara swadaya.
“Kami membayar uang demi membeli tong bekas dan bangkai mobil demi dibuang ke laut guna membentuk terumbu karang buatan. Namun, bersama setiap eskalasi di Laut Merah, kami dilarang mengakses terumbu karang kami lantaran alasan militer dan dipaksa menangkap ikan di dekat pantai,” kata Mazhar.
“Saya tidak dapat menyebutkan pihak yang membatasi kami pada saat ini lantaran saya seorang nelayan, dan berbicara dapat menempatkan saya dalam risiko,” kata Mazhar.
“Tetapi kedua belah pihak yang bertikai telah mencegah kami berlayar pada waktu yang berbeda. Kami merupakan pihak korban dari setiap faksi yang bertempur di wilayah kami.”
“Pada akhirnya, nelayanlah yang menderita demi menghidupi keluarga mereka,” kata Mazhar.
“Kami tidak punya andil dalam perang ini, namun kami menanggung konsekuensi terburuknya.”
Bagaimana Ancaman Ranjau Bawah Air Mengancam Jiwa Nelayan?
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

