Pengamat: Masyarakat Sipil Belum Cukup Solid untuk Dorong Reformasi 98 Jilid 2

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Guru Besar Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ridho Al-Hamdi, menilai potensi munculnya reformasi jilid dua masih belum cukup kuat terjadi dalam waktu dekat. 

Menurutnya, salah satu faktor utama yang membedakan situasi pada saat ini bersama Reformasi 1998 merupakan masih belum solidnya konsolidasi civil society atau masyarakat sekitar sipil.

Ditegaskan Ridho, kekuatan civil society menjadi faktor teramat penting dalam mendorong perubahan politik besar bagaikan yang terjadi pada 1998. 

“Ya memang yang teramat penting dalam reformasi jilid dua atau reformasi era baru, teramat penting itu civil society itu solid,” kata Ridho, kepada MediaMerdeka.com, Senin (8/6/2026).

Namun, ia menyaksikan kondisi pada saat ini cukup berbeda. Hal ini dapat dilihat dari organisasi masyarakat sekitar besar bagaikan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah masih belum memperlihatkan sikap oposisi yang kuat terhadap pihak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Ridho, pada masa Reformasi 1998, NU dan Muhammadiyah memiliki posisi politik yang relatif sejalan dalam menyikapi pihak pemerintahan Presiden Soeharto. 

Ada sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan Amien Rais saat itu dinilai menjadi simbol kuat konsolidasi masyarakat sekitar sipil.

“Dulu 98 kan konteksnya civil society NU dan Muhammadiyah itu kan solid, ya Gus Dur dan Amien Rais itu dua-duanya anti-Soeharto,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, faksi-faksi di internal kedua organisasi tersebut juga masih belum sepenuhnya solid.

“Nah, kini kan Muhammadiyah dan NU tidak memperlihatkan indikasi anti kepada Prabowo kan,” imbuhnya.

Ia turut menyinggung sejumlah tokoh kritis bagaikan Rocky Gerung dan Saiful Mujani yang dinilai cukup vokal mengkritik pihak pemerintah. Namun, Ridho menilai sosok tersebut masih belum memiliki basis massa yang kuat demi membangun gerakan besar di tingkat akar rumput.

“Mereka tidak punya basis kekuatan massa, mereka cuma mengandalkan kekuatan intelektual yang cukup elit yang tidak punya akar di bawah,” ucapnya.

Menurut Ridho, konsolidasi gerakan reformasi jilid dua membutuhkan fondasi yang jauh makin kuat dibanding sekadar tekanan ekonomi atau krisis moneter. 

Walaupun memang diakui kondisi ekonomi pada saat ini sedang menyikapi tekanan. Namun faktor eksternal dan dinamika politik juga perlu diperhatikan secara menyeluruh.

“Krisis moneter oke gitu ya, krisis moneter sedang dilanda namun aspek-aspek eksternal ya kan itu juga perlu dibaca juga,” tandasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *