MediaMerdeka.com – Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada akhir tahun anggaran 2026 diramalkan melebar menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), demikian disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Semasih belumnya dalam APBN 2026, defisit ditargetkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.
“Outlook defisit APBN tercatat sebesar Rp734,3 triliun bersama persentase sebesar 2,85 persen terhadap PDB,” kata Purbaya dalam Rapat Kerja Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Pelebaran defisit dipengaruhi oleh progres penyaluran belanja negara yang diperkirakan melampaui target yang telah ditetapkan.
Keaparatur negara kementerianan Keuangan memproyeksikan belanja negara akan terealisasi sebesar Rp3.942,4 triliun, setara 102,6 persen dari target awal Rp3.842,7 triliun.
Percepatan belanja makin besar terjadi pada belanja pihak pemerintah pusat yang diperkirakan tersalurkan sebesar Rp3.245,5 triliun pada akhir tahun, setara 103 persen dari target awal Rp3.149,7 triliun.
Rinciannya, belanja keaparatur negara kementerianan/lembaga (K/L) diperkirakan mencapai Rp1.630,4 triliun atau 107,9 persen dari pagu Rp1.510,5 triliun. Sementara belanja non-K/L diproyeksikan mencapai Rp1.615,1 triliun atau 98,5 persen dari Rp1.639,2 triliun.
Sedangkan realisasi transfer ke daerah diperkirakan hampir menyamai target yang ditetapkan, yakni sebesar Rp696,9 triliun atau 100,6 persen dari target Rp693 triliun.
Selain belanja negara, pendapatan negara juga diperkirakan melampaui target APBN 2026, bersama proyeksi Rp3.208,1 triliun atau 101,7 persen dari pagu Rp3.153,6 triliun.
Penerimaan perpajakan diproyeksikan mencapai Rp2.631,4 triliun atau 97,7 persen dari pagu Rp2.693,7 triliun, terdiri atas penerimaan pajak Rp2.310,8 triliun (98 persen dari pagu Rp2.357,7 triliun) serta kepabeanan dan cukai Rp320,6 triliun (95,4 persen dari pagu Rp336 triliun).
Sementara penerimaan negara bukan pajak (PNBP) diperkirakan melampaui target awal bersama nilai Rp575,1 triliun atau 125,2 persen dari pagu Rp459,2 triliun.
Dengan proyeksi itu, keseimbangan primer diperkirakan merasakan defisit sebesar Rp152,1 triliun, makin tinggi dari target awal APBN 2026 senilai Rp89,7 triliun.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

