MediaMerdeka.com – Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak jebol pada awal perdagangan Senin (8/6/2026), meski Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru saja mengumumkan penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter demi menjaga stabilitas ekonomi akhir pekan lalu.
Rupiah tercatat melemah ke level Rp18.110 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Mata uang Garuda turun 104 poin atau 0,58% dibandingkan penutupan semasih belumnya, sekaligus menandai tekanan yang masih kuat di pasar keuangan domestik.
Tak cuma rupiah, IHSG juga dibuka anjlok 3,23% atau 180,89 poin ke level 5.413. Data RTI Business memperlihatkan indeks sempat menyentuh level tertinggi harian 5.490 semasih belum terjun bebas hingga menyentuh posisi 5.370.
Tekanan jual terlihat amat dominan. Sesejumlah 532 saham bergerak di zona merah, cuma 53 saham yang menguat, sementara 114 saham lainnya stagnan.
Kondisi ini terjadi cuma dua hari setelah Gubernur BI Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan kesepakatan memperkuat sinergi fiskal dan moneter guna menahan pelemahan rupiah serta menarik kembali dana asing yang keluar dari Indonesia.
Perry menerangkan terdapat dua langkah utama yang akan ditempuh. Pertama, meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik agar investor asing kembali masuk ke pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Menurut Perry, kenaikan suku bunga global telah memicu arus modal keluar dari berbagai instrumen investasi Indonesia berakibat menekan nilai tukar rupiah.
“Fiskal dan moneter sepakat demi sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebutkan dua kebijakan yang baru disepakati pihak pemerintah dan BI makin tepat dipandang sebagai upaya menahan pelemahan rupiah ketimbang menjadi jaminan penguatan yang berkelanjutan.
Adapun dua langkah yang ditempuh merupakan meningkatkan daya tarik imbal hasil instrumen rupiah guna menarik kembali dana asing, serta menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan.
“Menurut saya, dua langkah BI dan Kemenkeu tersebut dapat menolong menahan tekanan rupiah, namun masih belum otomatis menciptakan rupiah menguat secara berkelanjutan,” kata Josua kepada MediaMerdeka.com.
Menurutnya, peningkatan imbal hasil aset berdenominasi rupiah dapat menarik kembali aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), terutama ketika investor global sedang berburu instrumen bersama tingkat pengembalian makin tinggi.
Dalam jangka pendek, strategi tersebut berpotensi mengurangi tekanan jual terhadap rupiah sekaligus memperlihatkan komitmen otoritas dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, efektivitasnya tetap amat bergantung pada tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi domestik.
“Jika pemodal masih menyaksikan risiko kebijakan domestik tinggi, kenaikan imbal hasil cuma akan menjadi kompensasi risiko, bukan pemulihan kepercayaan,” ujarnya.
Selain itu, Josua menilai kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan sektor perbankan juga menjadi faktor penting. Pasalnya, tekanan terhadap rupiah kerap kali meningkat ketika tersangka pasar berebut likuiditas dan perbankan menjadi makin konservatif dalam menyalurkan dana.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

